//
you're reading...
Sajak Gelap

Pergantian Millenium 3

BALADA ISA TERASING TERPENJARA

Selalu saja ia tertikam gelisah
Detik-detik yang semestinya biasa
Menjadi tak terarah dan bermakna salah
Kerumunan berarak-arak memadati kota, desa, lembah, ngarai, gunung
Bagai domba-domba gembala Isa berlariah tak terarah
Memadati pada liar.
Bunyi bersahutan memenuhi udara.

Isa tertegun gulana,

Merasakan salib-salib mematung diri.
Beranjak dari singgasana keabadian. Isa turun
Membongkar bongkah batu kuburnya.
Tangan kurusnya bergetar menahan luka.
Menggali tetes-tetes darah air mata pengikutnya

Isa terpanjat terpana,

Tubuhnya lenyap entah ke mana
Tetes darah air mata lenyap tanpa sisa.

Dalam pedih, Isa yang lembut bercahaya
Berkelana mengembara
Di persembunyian
Di keramaian kerumunan
Di kota
Di desa

Tak jua dijumpainya, diri dan sahabat-sahabatnya
Lelah tanpa daya

Setengah meratap, Isa berdo’a meminta:
“Tuhan, telah kulalui permukaan bumi, tak kunjung kujumpai diri dan sahabat-sahabatku
Tuhan, aku lelah tak berdaya
Hamba-Mu yang lemah ini dilanda risau gundah
Tuhan, aku mohon kepada-Mu
Kembalikan kekuatanku, sempurnakan titah-Mu
Tuhan, beri aku semangat pencarian Ibrahim
Karuniai aku kesabaran Nuh
Bekali aku dialektika Musa
Sertakan bersamaku Nur Muhammad
Tuhan, kabulkanlah permohonanku

Setelah berdo’a, Isa keluar goa
Menyebar do’a segala penjuru
Cahaya menyelubungi tubuh rapuh
Wajah sayu itu tenang anggun.

Semesta khusuk menyertainya
Lautan dzikir menjunjungnya

Halilintar menyambar menggelegar bersahutan
Suasana berubah mencekam.

Bumi yang tua dan lelah, bangkit penuh harap bangga
Setelah penantian panjang menanggung derita dosa manusia
Bergetar menggetar sukma.

Samudera bergelora menambatkan beban mengumbar kekuatan
Tak tahan menuntaskan peradaban

Badai meliuk-liuk menebar bencana
Berdesis menyapu semua yang ada….

Isa berteriak menyela..
Kaget ia, kerongkongannya kering

Raja api menyala menyaliukannya
Bersungut-sungut menahan marah
Kecewa karena keterlambatannya

Isa terdiam dengan wibawa
Suasana berubah hening, dalam hati, Isa bergumam lirih, ”gerangan apakah ini?”
Tongkat gembalanya ia angkat tak terlalu tinggi, sabdanya:

“Saudara-saudaraku, terima kasih atas keikhlasanmu
Aku menangkap kepedihan kalian. Tapi, ini belum waktunya saudaraku, beristighfarlah, tahanlah diri kalian. Tuhan masih menghendaki kesabaran kalian.
Endapkan amarah kalian.
Saudaraku, aku akan sangat malu pada Muhammad jika kalian turun tangan
Saudaraku, beri aku kesempatan menebus hutangku pada Muhammad.
Untuk itu bantu aku menemukan sahabat-sahabatku”

Menyahut suara di belakang Isa:
“Kami di sini, di belakangmu Kanjeng Nabi.”

Sejenak keajaiban menyelimuti Isa sembari memuji Allah.
Suara-suara itu menyentak kesadaran Isa kembali:
Bumi memuntahkan kami dari persembunyian,
Udara merangkum ruh kami dan memberi nafas kami,
Samudera mengalirkan darah kami dan
Api mengobarkan semangat kami.

Lega dada Isa lalu berkata:
“Terima kasih, sahabat-sahabatku telah kembali atas bantuan kalian,
sekarang kembalilah. Tenang dan sabarlah kalian.
Tunggulah titah Tuhan”

Mematuhi Isa, keempatnya beranjak pergi
Dengan pedih, bumi pergi menanggung perih
Samudera tenang menyimpan kekuatan dibayang kengerian
Badai menyemilir sepi ke angkasa mengawan duka
Menggerutu api menyala membara mengandung amarah tak tertumpah

Di tengah padang, di keheningan malam
Isa menghadirkan wajahnya, beserta sahabat-sahabatnya kembali dirundung duka dunia

Ah, Isa, engkau masih saja terasing terpenjara

Perlahan mereka bangkit menembus keremangan
Membawa titah mengembalikan domba gembala ke padang cahaya

Memasuki kota
Kerumunan ada di mana-mana
Bayangan masa lalunya hadir, tiba-tiba ia merasa menuju tiang salib.
Kerumunan itu mencibirnya, melontarinya dengan serapah dan ludah.
Menggiringnya ke tengah.

Isa mencoba tersadar, namun kerumunan itu makin membesar dan menggila
Lebih dahsyat dari sebelumnya.
Menginjak-injak harga diri dan ajarannya.
Bahkan tongkat Musa sia-sia belaka.

Mencoba kembali ia serukan keabadian.
Hampa menerpa. Persis sama di awal kerasulannya. Penyaliban pertama.
Berulangkali dan berulangkali, datang untuk dicampakkan.

Semakin pili dan malu ia menjauh
Tangis bumi mengiringi ke persumbunyiannya
Domba-domba gembalanya bertebaran kehilangan arah

Tertunduk Isa memeluk sepi
Sebab sahabatnya pun terpaku perih
Memarau suaranya, menyelami keluhnya lidah
Menyeka linangan air mata

Teringat olehnya kerabat dekat penyangga derita
Kusta kehidupan masih saja ada
Si buta dan miskin yang tertindas masih saja tertatih menjunjung bejana

Tegur sapa sejuk terlontar
Menyusup kerinduan kehangatan membayang….
Diam tak bergeming.
”Oh, Tuhan. Bencana apa ni? Apa memang sudah tiba waktunya?”
Tak satupun mengenalnya, tak satupun menghiraukannya.
Luluh hancur, mengapung di kesunyian.

Penyaliban kedua terasa menghunjam
Kembali Isa ke gua persembunyian. Ia pilu malu
Isa terasing….. Isa terpenjara….
Tersalib sepi
Tersalib sunyi
Tersalib duka
Tersalib nestapa tak terkira

Bumi menggetar menahan tangis
Badai gelisah menyimpan duka
Samudera bergejolak menyangga kekuatan kepedihan
Api berkobar menyala menahan amarah
Mereka…………
Menunggu titah ……………..

Condongcatur, 31 Desember 1999 – 1 Januari 2000

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: