//
you're reading...
Aku dan Pikiranku

MENYAMBUT TAHUN BARU 2007

I’ve no Common Sense

Momen pergantian tahun selalu menghadirkan kegelisahan demi kegelisahan, ingin tak peduli tapi terpaksa terusik. Sesuatu yang tak luar biasa menjadi luar biasa. Tak ada beda detik ini dengan yang kemarin… perhitungan waktu yang linier… sebenarnya menjadi sesuatu yang mengusik karena begitu massifnya berhala-berhala modern tersuguhkan, terdengar, terlihat dan sekali lagi terpaksakan untuk kunikmati dan yang sebenarnya tak nikmat.

Bagaimana mungkin sebuah "bangsa yang tak menghargai waktu", tiba-tiba saja punya kepentingan yang sedemikian besar dengan pergantian tahun. Apa bedanya kemarin, sekarang dan esok. toh sama saja… tetap dalam kemalasan, hura-hura dan penuh euforia. Bangsa yang selalu menjadi santapan lezat barang-barang baru yang tak mampu menciptakan hal-hal baru… [Jangan-jangan aku yang pesimis dan apriori]

Bukan rahasia, jika bangsa ini penuh ‘kemoloran’ termasuk aku yang suka molor. Pergantian tahun tak dijadikan momen evaluasi malah hura-hura… Bangsa yang sakit! Pun AKU YANG SAKIT! Yang sebenarnya tak perlu kutuliskan akhirnya tertulis juga. Coba simak even-even tahun baru, mengapa do’a-do’a dipanjatkan diharapkan dituturkan dengan iringan jingkrak-jingkrak tak karuan.. bagiku kontradiksi.. ironis bahkan, bagaimana alam mau mendengarkan harapan-harapan kita akan tahun baru yang lebih baik jika harapan2 dipanjatkan dengan gelimang hura-hura tanpa kesungguhan. Tapi, yang banyak terjadi bukan pengharapan2 tapi lebih pada menambah beban derita dunia.

Sering benakku berputar-putar, menimbang-nimbang, bencana demi bencana menimpa. tapi tetap saja tak menjadikan bangsa ini mengevaluasi diri. Kesadaran sosial bangkit sesaat, tapi sebentar luntur terbawa angin. Tak menampar alam kesadaran bangsa ini untuk sekedar memahami bahwa saatnya untuk memperbaiki diri. Kejadian tsunami 2 tahun di akhir desember 2004 lalu bukti bahwa bangsa ini telah kehilangan kepekaan sosial, 5 hari berselang dari bencana, belum reda tangis dan rintih aceh, di hampir seluruh belahan Indonesia lainnya sudah berjingkrak-jingkrak, mem-blayer motor kencang2 di jalanan menyambut pergantian tahun. Keprihatinan datang dari segala penjuru dunia, bahkan Eropa, negara dengan demokrasi dan kebebasan, banyak yang membatalkan acara tahun barunya sekedar ikut bersimpati dan prihatin, bahkan kalau gak salah, pemerintah belgia atau mungkin denmark secara resmi mengeluarkan perintah untuk membatalkan seluruh even tahun baru. Ikut merasakan kepedihan bangsa asia tenggara yang terkena bencana maha dahsyat.

Di menit-menit pergantian tahun 2004 menuju 2005, dalam sebuah acara di salah satu radio Surabaya, ada penelpon warga Indonesia yang menelpon dari Eropa sekedar menyampaikan duka derita dan kejengkelan luar biasa terhadap masyarakat Indonesia. Bagaimana mungkin, sebuah bangsa yang terkena musibah sedemikian hebatnya masih melakukan konvoi2 perayaan tahun baru. Ke mana nurani kemanusiaannya. Kurasa, tanpa musibah dan bencana, tahun baru tetap demikian adanya, sekedar "kolusi dan konspirasi kepentingan ekonomi global". Budaya massa yang diproduksi untuk melenakan, melupakan sejenak derita beban keseharian, tenggelam dalam euforia massa tapi menghasilkan keresahan tak terperih.

DAN MEMANG, perayaan tahun Baru hanya menjadi menjadi sarana "MABUK-MUNTAH" akan kenyangnya penderitaan bangsa pesakitan ini. SEHINGGA, apa pun evennya, yang penting bisa HURA-HURA dan kalau perlu HURU-HARA.

 

 

 emoticon emoticon emoticon emoticon emoticon

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: