//
you're reading...
Sketsa

Agungnya Seruan-Nya

Senja baru saja menghampiri, saya bergegas meninggalkan kerjaan kantor yang menumpuk untuk memenuhi janji pada adik-adik yang kebetulan merayakan ultah berbarengan, tepatnya tanggal 4, 5 dan 7 Juli. ulang tahun Taufan, Arini dan Nuruddin.

Tak ada rencana matang mau makan di mana, akhirnya jalan aja menuruti roda motor bergerak sambil melihat kanan kiri jalan, siapa tau ada warung murah meriah yang cukup untuk menampung 12 orang. sampai pada sebuah warung bakso di jalan lontar, pas adzan maghrib, hidangan telah tersedia, alih-alih buka puasa padahal tidak.

Sesuatu yang biasa tiba-tiba menjadi tak biasa. Setelah makan, rombongan berangkat ke masjid terdekat untuk maghriban. Pilihan jatuh di Masjid Citra Raya. Masjid besar namun sepi jamaah saya kira. Berjamaah di masjid besar nan megah,……… serasa diri menjadi mengerdil. Nuansa hening dan menusuk hingga tiba datang adzan Isya.

Rombongan masih di teras halaman masjid, melanjutkan canda tawa dan cengkrama yang sepertinya tak ingin terakhiri. Dibelai angin malam yang mulai turun sepoi-sepoi beratap langit luas bertabur malunya bintang di balik awan. Masya Allah, sungguh, nikmat tak terkira. Hati mulai tersentuh, dada bergemuruh, manakala lantunan adzan isya terdengar demikian indah syahdu merdu. Andai saja, tak ada siapa-siapa di dekatku, mungkin sudah meledak tangisku.

Hati tak kuasa mendengar adzan yang menggema begitu agung, sungguh, lama rindu ini terpendam. Terdiam, menahan gemuruh ledakan tangis yang tertahan. Beruntung suasana remang, hingga adik-adikku tak melihat air mata ini telah tumpah perlahan. Segera kusongsong rindu ini dengan air wudhu. Tak pelak, tubuh bergetar hebat menahan tangis sekuatnya saat tersungkur sujud dalam sholat sunnah hanya sekedar menumpahkan rindu dan melampiaskan sepuasnya.

"..Dalam alam pikir saya berkecamuk, tiap tahun, lulusan sma tidaklah kecil dan malah tergolong besar. dari sekian banyak dari mereka berapa orang yang memiliki kesempatan melanjutkan kuliah dan berapa orang yang langsung bekerja dan berapa orang yang tidak kuliah dan tidak bekerja. Angka-angka statistik beterbangan di kepala saya. Yang paling mengkhawatirkan, berapa besar angka pengangguran yang menyumbang angka kriminalitas bangsa ini? Ya Allah, sungguh di luar kemampuan saya.

Kekhawatiran semakin memuncak manakala perkiraan angka yang tak meneruskan dari siswa saya tergolong banyak, terlebih beberapa siswa yang saya kenal dengan baik, benar-benar tak punya kesempatan untuk meneruskan. sebagai guru, teman dan kakak, mau tak mau terusik hati saya. Semakin pening kepala dan sesak di dada.."

Luasnya langit dan agungnya gema adzan telah mengerdilkan dan menafikan kesombongan diri. sesak dan sempitnya hidup seperti menemukan luasnya muara kasih-sayang-Nya. Kupuaskan diri duduk dzikir agak lama. Kupanjatkan do’a kepada-Nya, semoga masalahku dan keluargaku menemukan jalan keluar terbaik. Semoga adik-adikku, yang tak bisa melanjutkan kuliah dan belum mendapat kerja segera mendapatkan jalan keluar yang baik dan terbaik untuk mereka, Smoga yang baru saja menempuh ujian masuk perguruan tinggi bisa lulus dan mendapat yang terbaik untuk diri mereka. Smoga adik-adikku yang dihimpit kepahitan dan kegetiran segera mendapatkan hikmah indah dari hidup, mendapatkan jalan keluar dari-Nya. Kuakhiri do’a dengan dada bergemuruh: "Ya Allah, Taqobbal minni, Taqobbal minni, Taqobbal minni… Ya Allaaaahh!!"

Habis sudah kata-kata untuk menumpahkan rasa. Tak cukup kukira. Bahkan, melemas sudah persendian jemari, seluruh emosi yang tertumpah saat tulisan ini terketik, tetap belum tertumpah dalam kata. Air mata tak henti mengalir, dan entah tiba-tiba hidung seperti terkena flu, jadi berair.

[Tulisan ini untuk seluruh adik-adikku, siswa-siswaku, murid-muridku, bahwa ketaksanggupan dan keterbatasan mulut saya, menjadikan baris kata-kata ini meluncur untuk kalian semua. Dan kepada beberapa dari kalian yang telah membawa saya pada sore ini, terima kasih telah mengantar saya mencapai puncak kegelisahan dan ketakberdayaan saya menemui agungnya seruan-Nya]

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

4 thoughts on “Agungnya Seruan-Nya

  1. thx ya… bro, father, and beloved teacher buat doa ama semangat yang u kasih buat qta (adek,anak, n murid u )…..

    Mas Admin berkata
    You’re Welcome Tere.. Be Proud to be Smaxis’s Student

    Posted by tere-cuantik | Juli 8, 2007, 7:40 pm
  2. Allahu Akbar….
    hanya itu yang terucapšŸ™‚

    Mas Admin berkata:
    Allahu Akbar walillahihilhamd..
    Jazzakumullahu khoirul Jaza’

    Posted by az&fa | Juli 14, 2007, 5:25 pm
  3. terkadang Q mendambakan suasana hening & tentram seperti yang terjadi pada diri anda agar Q bisa meneteskan air mata tanda cintaQ padanya yang maha kuasa. namun di tengah hiruk pikuknya ksibukan di kota metropolis ini, suara adzan yang hanya terdengar samar2 di telingaQ.
    allahuakbar….
    ya Allah ampuni hambamu ini

    Mas Admin berkata:
    Mudah2an momentum hening segera dan sering menghampiri hidupmu. metropolitan memang menantang. temukan Tuhan dalam hiruk pikuknya.

    Posted by ephie | Juli 28, 2007, 10:48 am
  4. Semua keindahan, kesejukan, kemegahan, keagungan, dan segala kenikmatan itu merupakan anugerah dari Allah SWT. Anehnya masih saja ada orang2 yang tidak mempedulikan dan ingkar. Lalu, apa yang ada dibenak pikiran mereka tentang semua itu ?

    Posted by fuad syamee | September 29, 2007, 8:36 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: