//
you're reading...
Artikel Ringan

Memaknai Hari Merdeka

Seperti tahun demi tahun berlalu sebelumnya, perayaan kemerdekaan tak pernah berhenti dari sukacita dan luapan kegembiraan, berbagai acara digelar dari perlombaan hingga perenungan di malam pitulasan. Dari balita hingga tua renta, semua terlibat tak terkecuali, bahkan mereka yang di lembaga pemasyarakatan pun tak lepas dari hipnotis perayaan yang membanggakan ini. Umbul-umbul dipasang, bendera dikibarkan, kampung, rumah, hingga sepeda dihias untuk memeriahkannya. Benar-benar Pesta pora dan perayaan sukacita yang luar biasa bagi saya.

Lantas, saya bertanya-tanya dalam hati: ‘Demikian bahagianyakah bangsa ini merayakan kemerdekaan? atau hanya prosesi budaya tanpa pernah tau makna merdeka?’ Saya terus bertanya-tanya, alangkah kasihannya mereka yang hidup di negara yang tak pernah terjajah macam Thailand yang tak pernah merasakan apa itu hari kemerdekaan? Mereka yang tak pernah mengerti apa makna kebebasan dan sekedar gegap gempita untuk merayakannya? Emmmhhhh, terus terang saya blank untuk bisa merasakan sedikit saja menjadi rakyat Thailand.

Kini, saya tak pernah merasakan lagi keharuan manakala prosesi perayaan kemerdekaan memasuki ruang jiwa semenjak terkahir kali saya turun ke jalanan bersama kawan-kawan dalam peringatan 17-an di Jogja dulu. Adakah saya telah kehilangan jiwa nasionalisme? jiwa kebangsaan yang selama ini mengilhami saya untuk turun ke jalanan pada orde menjelang dan setelah reformasi. Saya tak lagi merasakan sentuhan lembut tangan-tangan perempuan letih yang menggapai dan mencambuk saya untuk meneriakkan ‘Lawan Kesewenangan!’. Saya telah kehilangan mata bening pak tua yang menuntun dan membimbing saya dengan berkata: ‘Nak, jangan jual bangsa ini!’. Saya merindukan tangis tulus para demonstran dengan tangan mengepal di sela-sela lagu ‘Darah Juang’ dan ‘Indonesia Raya’ mengiringi semangat reformasi menjelang perayaan kemerdekaan di tahun 1998.

Saya merindukan gandeng tangan berjalan bersama dengan ‘ketulusan‘, ‘kebeningan‘, ‘semangat militan tanpa pamrih’ untuk mengatakan ‘MERDEKA.. MERDEKA.. MERDEKA..!!’

MERDEKA TANPA MENGHABISI KEMERDEKAAN ORANG LAIN.

<!– –>

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

3 thoughts on “Memaknai Hari Merdeka

  1. pak saya dukung atas apa yang bapak katakan memang seharusnya kita menghiasi kemerdekaan tanpa diwarnai kekerasan. BASMI TINDAKAN SALING MENINDAS…..
    4d3uny x-2

    Posted by 4d3uny | September 19, 2007, 9:08 am
  2. pak saya setuju dengan pikiran bapak,tapi gimana ya pak cara membasmi kesewenangn di indonesia

    Posted by fikri92 | Oktober 27, 2007, 2:31 am
  3. pak saya setuju dengan pikiran bapak,tapi gimana ya pak cara membasmi kesewenangn di indonesia
    fikri92.wordpress.com
    X2

    Posted by fikri92 | Oktober 27, 2007, 2:33 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: