//
you're reading...
Aku dan Pikiranku

Guru: Wagu tur Kuru [kadang Saru]

[Tanggapan untuk tulisan "Gerah Gara-gara Guru"]

Tulisan ini, terus terang terinspirasi oleh tulisan ini, ditulis oleh pak guru yang sangat santun bagi saya, sekaligus intelek banget. Trus saya berfikir ulang untuk mencari jati diri saya yang menurut istilah saya "terjebak dan terjerumus" dalam dunia pendidikan.

Memperingati hari guru tanggal 25 nopember, ada kado istimewa buat saya, dari teman-teman Guru Bantu, kabar gembira bahwa kemarin sabtu 24 Nopember 2007 mereka diangkat menjadi PNS oleh Pemkot Surabaya. Saya terharu melihat kegembiraan yang dialami teman saya yang kebetulan dia dan istrinya diterima dua-duanya. Keharuan itu bukan tanpa alasan, pasangan ini sudah menunggu kurang lebih 15 tahun untuk bisa diangkat jadi PNS. Saya tidak bisa membayangkan, jika yang berdiri dan duduk di sebelah saya menanti dan mengamati namanya terpampang di lembar pdf adalah guru yang selama hidupnya mengabdi untuk pendidikan penuh dedikasi dan penuh harapan untuk diangkat jadi PNS. Mungkin ia akan tumbang, duduk bersimpuh sujud syukur, berurai air mata, mungkin.

Guru dengan model seperti itu sangat banyak, setahu saya, impian mereka sangat sederhana, diangkat jadi PNS adalah anugerah yang sangat luar biasa. Entah kenapa saya menjadi kikuk sendiri, merasa ada yang aneh pada diri saya. Potret luar biasa dahsyatnya dari sebuah bangsa yang besar yang kaya raya tapi minim apresiasi untuk manusia-manusia yang berjuang mencerdaskan bangsanya.

Permasalahan yang melingkupi dunia pendidikan yang di antaranya adalah rendahnya mutu pendidikan negeri ini yang pada gilirannya berujung pada rendahnya kualitas dan kredibilitas guru tidak lain dan tidak bukan karena ada yang salah dari sistem moral dan sistem pendidikan yang tidak memberikan apresiasi yang layak pada profesi yang bernama guru.

Bagaimana dianggap layak, bila profesi "guru" yang diharapkan bagai "resi", meminjam istilah pak sawali,  mampu mengajar dan mendidik siswanya mengantarkan mereka ke gerbang intelektual dan moral sementara keadaan perut mereka compang-camping. Tugas guru semakin berat seperti sudah diulas panjang dan lebar dalam tulisan "Gerah Gara-gara Guru", moral peradaban yang sudah bergeser tak bisa tidak, memaksa para guru untuk memperbarui diri dengan kemampuan adaptasi sekaligus mengimbanginya yang kemudian diaplikasikan dalam dunia pendidikan.

Pernah saya menulis "pendidikan yang memprihatinkan", saya katakan, sulit memperbaiki pendidikan bangsa ini kalau SDM-SDM terbaiknya lebih memilih lari ke dunia industri, perdagangan dan lain-lainya dari pada memilih menjadi guru. Menjadi Guru adalah pilihan terakhir jika sudah tak ada pilihan lain. Kenapa demikian, karena dalam benak masyarakat bangsa ini, menjadi guru hanya mencari sengsara, sengsara moral dan sengsara ekonomi.

Sengsara moral, bagaimanapun guru adalah patokan moral masyarakat, predikat yang melekat 24 jam nonstop, guru tidak boleh salah dan tidak boleh tercela, harus sempurna. Guru harus membimbing masyarakatnya, tidak hanya di institusi pendidikan tempatnya bernaung, tapi juga di mana pun ia berada. Beban moral inilah yang menjadikan guru serba salah, harus lebih berfikir seribu kali dari pada profesi lainnya. Guru adalah contoh pengabdian untuk nusa bangsa, sementara moral peradaban tak lagi menjunjung tinggi pengabdian.

Sengsara ekonomi, sudah bukan barang baru lagi di negeri ini, guru bergaji di bawah standar kelayakan, guru tak layak dihargai lebih. Mereka cukup diberi "hymne guru" dan gelar "pahlawan tanpa tanda jasa". Guru sudah bahagia dengan dua itu, namun bagi saya, pembodohan terstruktur. Kaidah ekonomi yang berlaku pada perut mereka mewajibkan mereka mencari kerja sambilan sementara kaidah moral mewajibkan mereka tetap dalam kelaparan demi kredibiltas dan profesionalisme serta pengabdian mereka untuk nusa dan bangsa. Juga bukan barang baru lagi, guru mengajar di banyak sekolah, nyambi ngojek, nyambi jualan kelontong, memberi les-lesan. Tak luput para dosen yang lebih sering meninggalkan perkuliahan untuk urusan proyek ketimbang mengajar.

Kepada para guru, saya ucapkan terima kasih telah menjadikan saya seperti sekarang. Saya dukung sepenuhnya bagi anda yang kekurangan secara ekonomi untuk nyambi pekerjaan lain selama masih halal. Bagi Anda para guru yang sudah kecukupan materi, silakan mengajar dan mendidik penuh dedikasi, jangan main sulapan apalagi balapan. Silakan kembali ke khittah Guru. Jangan bolosan, jangan malas, jangan tidak profesional. Ingat, Anda dibayar rakyat untuk mengajar dan mendidik mereka dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ingat pula pepatah "Guru kencing berdiri Murid kencing berlari", Anda semua adalah patokan moral masyarakat, kalau guru rusak, masyarakat lebih rusak.

Kepada Masyarakat, terima kasih atas kepercayaannya, tapi mohon, "guru juga manusia", kadang khilaf pasti juga ada salah. Guru bukan malaikat yang tanpa cela di mata Tuhan. Beri ruang bagi guru untuk mengabdi bagi bangsa lebih baik lagi.

Kepada Pemerintah, perbaiki sistem pendidikan nasional, perbaiki kesejahteraan guru, perbaiki kualitas pendidikan, karena "pendidikan adalah investasi terbaik dunia akhirat".

Terakhir, semoga pendidikan Indonesia menjadi lebih baik dan tebaik. Amin Ya Rabbal Alamin.

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

13 thoughts on “Guru: Wagu tur Kuru [kadang Saru]

  1. pak’e…piye iki..sheipengin dadi guru,tapi ra oleh ‘mom’ gara-gara kui….kere…
    huwee…
    padahal guru kahn keren!!
    *triiiiing*

    Posted by shei | November 25, 2007, 11:24 am
  2. Ya, ya, terima kasih, Pak. Artikel Bapak telah ikut melengkapi artikel saya. Mudah2an banyak pihak yang makin menyadari betapa pentingnya posisi guru, bukan hanya di tempat mereka menjalankan tugas, melainkan juga ketika berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Semoga hari guru nasional tahun ini bisa membawa pencerahan, khususnya bagi para guru Indonesia, dalam ikut berkiprah membangun peradaban bangsa yang terhormat dan bermartabat.
    OK, salam, dan hidup guru Indonesia. terima kasih.

    Posted by sawali tuhusetya | November 25, 2007, 12:57 pm
  3. @ shei: Semangat!! Pantang menyerah! bilang emak, 10 tahun lagi guru setara dengan manajer..
    @ sawali: Matur nuwun pak telah mengilhami saya untuk menjadi ‘lebih baik’ lagi

    Posted by gempur | November 26, 2007, 8:13 am
  4. waduuuuh..pak’e…..

    hukzz…
    dongakno nggih…
    soale shei bener2 pengin…..dados guru
    Amin..
    Amin…
    pak….motivasi dunk….
    gai guru berapa yak 10 taon lagi??
    😀

    Posted by shei | November 26, 2007, 8:44 am
  5. pak, memang dari dulu yang namaya guru itu pasti banyak susahnya ya pak!!!.Dulu saya punya guru orangnya itu sabar,baik trus kalau ngajar muridnya itu kelihatan ikhlas banget pak.Tapi sayang karena sengsara ekonomi akhirnya guru itu gak ngajar lagi pak secara beliau kan hanya seorang guru bantu.Beliau juga ngomong sama saya katanya jadi guru bantu itu gak nyucuk buat beli susu anaknya.Tapi menurut saya pak, dibandingkan dengan dokter,profesor atau yang lainnya profesi yang paling mulia adalah “GURU”.So, jangan pernah menyasal ya pak jadi GURU.

    Posted by soenil | November 26, 2007, 9:30 am
  6. @ shei: Oke deh, saya beri motivasi, semangaaaaaat!🙂
    @ soenil: ehmmm, kayaknya nggak tuh! saya gak menyesal meski terjerumus dan terjebak di dalamnya!🙂

    Posted by gempur | November 26, 2007, 9:43 am
  7. selamat hari guru…
    sori telat ngucapinnya…

    Posted by Anas | November 26, 2007, 10:34 am
  8. saya guru, tapi bukan yang anda maksud lhoo

    Posted by imam mawardi | November 27, 2007, 12:03 pm
  9. @ Anas: kirim ucapannya pada guru aja yah!
    @ imam mawardi: Inggih, pak! njenengan guru ingkang benten sanget.. salam saking kulo, pak!

    Posted by gempur | November 27, 2007, 3:57 pm
  10. ya ampun iya…

    padahal dulu aku sering ngerayain hari guru….

    met hari guru ya…bapak guruku

    Posted by hanna | November 27, 2007, 7:42 pm
  11. @ hanna: makasih ya! btw, emang aku pernah jadi gurumu ya?! kok lupa saya! wekekekekek

    Posted by gempur | November 28, 2007, 4:29 pm
  12. Bukannya GURU itu “kudu bisa di GUGU lan di TIRU?”
    Mau nambahin, menurut saya Guru itu harus punya ciri khas dan ahli bener dalam bidangnya. Seperti di film VIRGIN ituloh,, ach,, bapak nggak tau ya, nonton dong Pak.

    Posted by desi | Desember 3, 2007, 10:46 am
  13. sekarang ini banyak sekali guru yang bernasib seperti itu.
    tetapi, sepertinya pemerintah kita kurang memperhatikan nasib guru

    Posted by Wisnu | Desember 6, 2007, 7:32 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: