//
you're reading...
Menyambut Hujan

Untuk Sang Kenangan [bag.3]

[Episode: Hari Tercerah di Musim Penghujan]

Mendung masih saja menggelayut, butir-butir air menetes jatuh dari langit, aku dan kau duduk di beranda. Duduk di bawah beralas tikar. Semilir angin dingin menyentuh dan membelai tubuh kita.  Kunikmati secangkir kopi untuk sekedar menghangatkan tubuh dan mengurangi galaunya hati dan jantung yang berdegup kencang.

Ternyata aku salah besar. Kopi buatanmu semakin memompa detak jantungku. Aku gelisah malu dan salah tingkah di hadapanmu. Kau begitu tenang, bahkan tanpa ekspresi.

Satu tujuanku mendatangimu kala itu, ingin kukatakan padamu bahwa aku sangat mencintaimu.

Tapi, sepertinya engkau sudah tau maksud kedatanganku. Engkau tetap seperti biasa menerimaku tanpa perubahan yang mencolok, tak seperti diriku yang salah tingkah dan gelisah. Sebentar selonjorkan kaki, sebentar kemudian bersila kembali, kadang seperti orang nyangkruk atau ngangkring, sementara kau hanya tersenyum *mungkin geli * melihatku.

Masih ingatkah kau?! Ketika hendak kukatakan cinta yang keluar dari lubuk hati terdalamku, kukatakan: “Akuuu.. emmhh…”, dalam keraguan dan ketakutan tertolak, sesuatu menyengat tenggorokanku. Mungkin wajahku pucat pasi di depannya, keringat dingin mulai membasahi krah bajuku. Aku coba teruskan kalimatku, mataku seperti memelas menyampaikan pesan rahasia yang tak terungkap, entah, tiba-tiba kau tegakkan telunjukmu di depan bibirku dan kau katakan dalam lirih: “Aku sudah tau. Jangan mencederainya dengan mengatakannya!…. Cukup kita rasakan dan biarlah ia mengalir mengisi hari-hari pendek yang kita miliki…. Percayalah, aku mengerti betul apa yang kau dan aku rasakan, tak perlu kau katakan. Aku takut kita tak mampu menyangganya!… Aku menerimamu apa adanya sebagaimana dirimu menerimaku selama ini..”

Entah dorongan dari mana, jantungku seperti berhenti berdetak, aku merasa melesat menembus mega-mega, terbang di gumpalan awan dan akhirnya jatuh tersungkur, sujud di atasnya. Benar-benar dunia dalam genggamanku. Lemas sudah seluruh persendianku, kelegaaan, keluasan memenuhi ruang hatiku. Aku terkulai bersandar dinding menatap sungging senyum di ujung bibirmu.

Sekali lagi, aku tenggelam dalam pesona kearifanmu.

Hari-hari setelah itu sungguh hari-hari yang paling membahagiakan untuk kita berdua, dengannya kita mampu menepis semua derita. Kita habiskan waktu-waktu dengan diskusi dan canda. Kita bicara cinta, dari Plato hingga tragedi Kahlil Gibran. Kurasakan kekuatan pikiranmu di sela lembutnya rasa dan garis tegas pemisah antara kau dan gadis seusiamu. Aku tenggelam dalam cintamu.

Kita mendiskusikan bagaimana Shakespeare dengan ’hamlet-nya menyihir eropa. Engkau masih sejalan denganku. Tapi, aku begitu terkejut, kulihat tatapan sinismu saat kuceritakan jalan cinta Romeo dan Juliet. Kudengar dengan jelas komentar singkatmu. “Sampah!”. Aku tersentak kaget, bagaimana mungkin seorang yang kukenal begitu arif dan bijak serta dewasa sepertinya mengeluarkan kata-kata sinis dan pedas. Bagiku sangat menusuk, kukatakan padanya: “Maksudmu?!” Kulihat bibirmu lirih mengatakannya, “Entahlah, aku merasa sangat picisan cintanya, perjuangannya layak mendapat pujian dan hujan air mata sedunia, tapi, untuk endingnya, kurasa terlalu naif, sayang perjuangan seberat itu harus diakhiri dengan kebodohan”.
“Tidakkah kau melawan arus dunia?” aku menyela.
“Peduli apa pada pandangan dunia tentang pendapatku, aku setuju atau menolak atau simpati tak ada pengaruhnya. Percayalah, tak ada resiko melawan mainstream dalam hal ini.” Katanya dengan penuh santun dan bijak.

Aku semakin kagum padamu, capek bicara shakespeare, kita bicara tentang filsafat keindahan milik M.Iqbal, sastrawan pakistan yang heboh dengan paham bersatunya India dan Pakistan, tak jauh darinya, kita bicara Rabindranath Tagore dengan Gitanjali-nya. Ah, kau sungguh teman bicara dan diskusi yang luar biasa, bukan hanya karena cintaku padamu, tapi, luasnya wawasanmu membuatku mengukuhkan diri sebagai pangeran paling bahagia di dunia.

Aku tenggelam dalam lautan cinta
Aku mabuk asmara luar biasa

Engkau meninggalkan selaksa keindahan, pesona dan keagungan…
Aku menunggumu dalam hujan…

[bersambung]

 

Untuk Sang Kenangan [bag.2]  –   Untuk Sang Kenangan [bag.1] 

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

14 thoughts on “Untuk Sang Kenangan [bag.3]

  1. mas jgn panjang-panjang ceritane, ntar jdi sinetron.

    Posted by Nurudin Arif | November 30, 2007, 5:06 pm
  2. baca dulu pak..

    Posted by andi bagus | November 30, 2007, 5:09 pm
  3. yah… bersambung lagi. kapan nih pak sambungannya?? tiwas enak2 baca eh ternyata belum ending.
    “Aku tenggelam dalam lautan cinta
    Aku mabuk asmara luar biasa”
    kalimat itu pak yang bikin orang bayangin gimana dahsyatnya cerita ini…
    rencananya samapi berapa bag pak?? kalo banyak2 bisa lupa cerita awal2nya.

    tapi gak papalah, kalo udah semua tinggal jadiin dramanya. siap nih jadi aktornya..[ngarep bgt].
    seru deh!!

    Posted by dj [anuar} | November 30, 2007, 8:32 pm
  4. bersambung Lagi deh..

    kaPan endingnYa..

    mau bkin noveL??

    Posted by sanTi | Desember 1, 2007, 12:27 pm
  5. Kayaknya kisahnya menarik, Pak, sayang belum sempat mbaca episode sebelumnya.

    Posted by sawali tuhusetya | Desember 1, 2007, 12:34 pm
  6. @ All [yg setia menunggu kelanjutan kisah ini]: Kisah ini memang dibuat agak panjang, tapi jelas tak ada upaya menandingi sinetron yang ratingnya jelas tinggi.
    @ sawali tuhusetya: hanya sekelumit kisah yang tak begitu bagus untuk konsumsi njenengan kok pak! punya njenengan itu yang keren abiz!😉

    Posted by gempur | Desember 1, 2007, 3:18 pm
  7. cie.. cie……

    ternyata pak gempur
    bisa bikin puisi…..

    sok puitis banget…..
    nie…………….
    ha… ha….. ha…..

    Posted by cicit^cewex^segi | Desember 4, 2007, 9:30 am
  8. tak perlu dikatakan memang…

    cinta itu sudah ada…

    tak perlu kau atau dia mengatakan
    toh kau atau dia sudah mabuk dalam asmara luar biasa
    sekali lagi kau dan dia tak perlu mengatakan
    toh kau dan dia terlanjur mabuk asmara luar biasa

    karena jika kau mengatakannya dan menjadi Romeo
    saat itulah cinta menjadi sampah…
    karena kau bukan Romeo-nya
    kau Ali-nya
    dan dia fatimah-nya

    Posted by hanna | Desember 5, 2007, 11:21 am
  9. wik….
    pak gempur rek, ternyata selama ini juga punya kisah-kisah cinta….he..
    *lanjut baca bag 1 & bag 2)*

    Posted by khuclukz | Desember 6, 2007, 5:34 am
  10. pak….pak….aneh-aneh ae le’ bikin cerita…
    hayooo pasti ini pengalamane u sama mantan pacar yo?
    tapi pemmerane koq ‘aku & kau’ c? koyo’ dancow ae…
    sebaiknya pake nama org aja utk orang ke 2…

    Posted by ajeng lassfourty | Desember 6, 2007, 7:10 am
  11. waduh pak…setelah saya baca lanjutannya, saya jadi ikut lega..akhirnya….cinta telah didapat,hehehehehe…teruskan lagi ya pak..rencananya mo sampe bagian brapa?pokoknya selalu tak tunggu lanjutannya…saya salah satu penggemar berat artikel ni lho pak…hehehehehehe…selamat berkarya🙂

    Posted by ana imoet | Desember 7, 2007, 7:02 am
  12. pak….pak………kok bersambung lagi….bersambung lg…….!!!!!!!!!!!!!!!jadi penasaran
    tapi aku perlu sungguh kagum ma cerita dan kata -kata sastra yang bpk pakai!!!!!!!!!!!filosofi bgt !!!!!!!!!!bljr dmn pak ?aq juga mau dunk?berbagai ilmu!!!!!!!!

    Posted by u_lya^ank aterii | Desember 7, 2007, 10:49 am
  13. Pak ghofur kok ceritanya gak ada gambar-gambarnya.Walau dikit kasih gambar dong pak biar imajinasinya waktu baca agarlebih terarah n biar gak bosen bulet kotak lurus melulu bisa jadi kotak nanti bacanya

    Posted by nada | Desember 17, 2007, 10:40 am
  14. Sangat beruntung bapakq yang satu ini..mmempunyai kisah yang jarang ditemukan di masa sekarang..
    lalu bagaimana denganq….??hahaha
    pertaanyaan bodoh yang keluar dari seorang pencerna dan pnncermat kisah2 cinta..hehe

    Posted by emink | Desember 27, 2007, 10:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: