//
you're reading...
Sajak Gelap

BALADA ISA TERASING TERPENJARA

BALADA ISA TERASING TERPENJARA

Selalu saja ia tertikam gelisah
Detik-detik yang semestinya biasa
Menjadi tak terarah dan bermakna salah
Kerumunan berarak-arak memadati kota, desa, lembah, ngarai, gunung
Bagai domba-domba gembala Isa berlarian tak terarah
Memadati pada liar.
Bunyi bersahutan memenuhi udara.

Isa tertegun gulana,

Merasakan salib-salib mematung diri.
Beranjak dari singgasana keabadian. Isa turun
Membongkar bongkah batu kuburnya.
Tangan kurusnya bergetar menahan luka.
Menggali tetes-tetes darah air mata pengikutnya

Isa terpanjat terpana,

Tubuhnya lenyap entah ke mana
Tetes darah air mata lenyap tanpa sisa.

Dalam pedih, Isa yang lembut bercahaya
Berkelana mengembara
Di persembunyian
Di keramaian kerumunan
Di kota
Di desa

Tak jua dijumpainya, diri dan sahabat-sahabatnya
Lelah tanpa daya

Setengah meratap, Isa berdo’a meminta:
Tuhan, telah kulalui permukaan bumi, tak kunjung kujumpai diri dan sahabat-sahabatku
Tuhan, aku lelah tak berdaya
Hamba-Mu yang lemah ini dilanda risau gundah
Tuhan, aku mohon kepada-Mu
Kembalikan kekuatanku, sempurnakan titah-Mu
Tuhan, beri aku semangat pencarian Ibrahim
Karuniai aku kesabaran Nuh
Bekali aku dialektika Musa
Sertakan bersamaku Nur Muhammad
Tuhan, kabulkanlah permohonanku

Setelah berdo’a, Isa keluar goa
Menyebar do’a segala penjuru
Cahaya menyelubungi tubuh rapuh
Wajah sayu itu tenang anggun.

Semesta khusuk menyertainya
Lautan dzikir menjunjungnya

Halilintar menyambar menggelegar bersahutan
Suasana berubah mencekam.

Bumi yang tua dan lelah, bangkit penuh harap bangga
Setelah penantian panjang menanggung derita dosa manusia
Bergetar menggetar sukma.

Samudera bergelora menambatkan beban mengumbar kekuatan
Tak tahan menuntaskan peradaban

Badai meliuk-liuk menebar bencana
Berdesis menyapu semua yang ada….

Isa berteriak menyela..
Kaget ia, kerongkongannya kering

Raja api menyala menyaliukannya
Bersungut-sungut menahan marah
Kecewa karena keterlambatannya

Isa terdiam dengan wibawa
Suasana berubah hening, dalam hati, Isa bergumam lirih, ”gerangan apakah ini?”
Tongkat gembalanya ia angkat tak terlalu tinggi, sabdanya:

Saudara-saudaraku, terima kasih atas keikhlasanmu
Aku menangkap kepedihan kalian. Tapi, ini belum waktunya saudaraku, beristighfarlah, tahanlah diri kalian. Tuhan masih menghendaki kesabaran kalian.
Endapkan amarah kalian.
Saudaraku, aku akan sangat malu pada Muhammad jika kalian turun tangan
Saudaraku, beri aku kesempatan menebus hutangku pada Muhammad.
Untuk itu bantu aku menemukan sahabat-sahabatku

Menyahut suara di belakang Isa:
Kami di sini, di belakangmu Kanjeng Nabi.”

Sejenak keajaiban menyelimuti Isa sembari memuji Allah.
Suara-suara itu menyentak kesadaran Isa kembali:
Bumi memuntahkan kami dari persembunyian,
Udara merangkum ruh kami dan memberi nafas kami,
Samudera mengalirkan darah kami dan
Api mengobarkan semangat kami.

Lega dada Isa lalu berkata:
Terima kasih, sahabat-sahabatku telah kembali atas bantuan kalian,
sekarang kembalilah. Tenang dan sabarlah kalian.
Tunggulah titah Tuhan

Mematuhi Isa, keempatnya beranjak pergi
Dengan pedih, bumi pergi menanggung perih
Samudera tenang menyimpan kekuatan dibayang kengerian
Badai menyemilir sepi ke angkasa mengawan duka
Menggerutu api menyala membara mengandung amarah tak tertumpah

Di tengah padang, di keheningan malam
Isa menghadirkan wajahnya, beserta sahabat-sahabatnya kembali dirundung duka dunia

Ah, Isa, engkau masih saja terasing terpenjara

Perlahan mereka bangkit menembus keremangan
Membawa titah mengembalikan domba gembala ke padang cahaya

Memasuki kota
Kerumunan ada di mana-mana
Bayangan masa lalunya hadir, tiba-tiba ia merasa menuju tiang salib.
Kerumunan itu mencibirnya, melontarinya dengan serapah dan ludah.
Menggiringnya ke tengah.

Isa mencoba tersadar, namun kerumunan itu makin membesar dan menggila
Lebih dahsyat dari sebelumnya.
Menginjak-injak harga diri dan ajarannya.
Bahkan tongkat Musa sia-sia belaka.

Mencoba kembali ia serukan keabadian.
Hampa menerpa. Persis sama di awal kerasulannya. Penyaliban pertama.
Berulangkali dan berulangkali, datang untuk dicampakkan.

Semakin pilu dan malu ia menjauh
Tangis bumi mengiringi ke persumbunyiannya
Domba-domba gembalanya bertebaran kehilangan arah

Tertunduk Isa memeluk sepi
Sebab sahabatnya pun terpaku perih
Memarau suaranya, menyelami keluhnya lidah
Menyeka linangan air mata

Teringat olehnya kerabat dekat penyangga derita
Kusta kehidupan masih saja ada
Si buta dan miskin yang tertindas masih saja tertatih menjunjung bejana

Tegur sapa sejuk terlontar
Menyusup kerinduan kehangatan membayang….
Diam tak bergeming.
”Oh, Tuhan. Bencana apa ni? Apa memang sudah tiba waktunya?”
Tak satupun mengenalnya, tak satupun menghiraukannya.
Luluh hancur, mengapung di kesunyian.

Penyaliban kedua terasa menghunjam
Kembali Isa ke gua persembunyian. Ia pilu malu
Isa terasing….. Isa terpenjara….
Tersalib sepi
Tersalib sunyi
Tersalib duka
Tersalib nestapa tak terkira

Bumi menggetar menahan tangis
Badai gelisah menyimpan duka
Samudera bergejolak menyangga kekuatan kepedihan
Api berkobar menyala menahan amarah
Mereka…………
Menunggu titah ……………..

Condongcatur, 31 Desember 1999 – 1 Januari 2000

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

32 thoughts on “BALADA ISA TERASING TERPENJARA

  1. Kalau boleh tahu ini tentang Penyaliban Isa yah… Tapi yang dimaksud Isa itu sang Jesus Kristus?
    Maaf kalau salah..

    Yaa kalau benar ada sesuatu di balik makna2 tayangan naskah operete itu heheh … saya mengerti tapi tidak saya masukkan .. *halah*
    Cara pengungkapan yang tidak biasa… tapi khas Gempur

    Posted by Kurt | Desember 25, 2007, 10:12 pm
  2. asik vertamax…πŸ™‚

    Posted by Kurt | Desember 25, 2007, 10:39 pm
  3. @ Pak Kurt: Ini hanya bentuk manifestasi saya untuk kemanusiaan tanpa mengurangi hak-hak Tuhan. Tentang Isa dalam sajak di atas, monggo terserah pak Kurt menganggapnya siapa.πŸ˜‰

    Tak lupa saya ucapkan, selamat menikmati pertamax.. hehehehehe

    Posted by gempur | Desember 25, 2007, 10:40 pm
  4. aku melu melu wae sik mas..tak pahami sek..

    Posted by andi bagus | Desember 25, 2007, 11:58 pm
  5. ????????????????
    Pak ceritanya gmn sech???
    q kok gak nyambung.πŸ˜›

    Posted by gi3 | Desember 26, 2007, 7:09 am
  6. @ andi bagus: nggih monggo…!
    @ gi3: benerin dulu tali yang putus, ntar baru nyambung.. hehehehe

    Posted by gempur | Desember 26, 2007, 7:44 am
  7. itu tulisan sendiri apa ngambil dari buku lain

    Posted by ayahshiva | Desember 26, 2007, 10:36 am
  8. @ ayahshiva: tulisan saya sendiri mas ari! emangnya kenapa? menakutkan? hehehehehe..

    Posted by gempur | Desember 26, 2007, 11:25 am
  9. Yg kupikirkan sama seperti Kurt…

    Posted by Praditya | Desember 26, 2007, 11:55 am
  10. @ Praditya: nggih pak, jawaban saya masih sama seperti di atas, monggo erserah panjenengan mau diartikan siapa.. matur nuwun..

    Posted by gempur | Desember 26, 2007, 12:22 pm
  11. waduh panjang banget tuch puisi ampe gua kagak ngerti. but still have a nice message

    Posted by dodot | Desember 26, 2007, 1:25 pm
  12. bingung memahaminya…πŸ™‚

    Posted by alief | Desember 26, 2007, 2:31 pm
  13. wah.. dalem.. dan rumit…
    berhubung saya lagi pusing.. jadi lom bisa mencerna.. maaf yah pakπŸ˜€

    by the way.. salam kenalπŸ˜€

    Posted by tu2t | Desember 26, 2007, 2:39 pm
  14. @ dodot: alhamdulillah kalo message-nya nyampe..πŸ˜‰
    @ alief: sama mas, saya juga bingung!πŸ˜‰
    @ tu2t: minum obat dulu mbak kalo pusing…!πŸ˜‰

    Posted by gempur | Desember 26, 2007, 3:08 pm
  15. hm…puisinya keren dan memiliki makna yang dalam

    Posted by nico kurnianto | Desember 26, 2007, 4:28 pm
  16. Gagal juga nih komen vertamax, malah sudah ke urutan sekian *nyesel jugak*
    Balada, sebuah bentuk teks sastra yang amat tepat untuk menggambarkan sebuah tragedi nilai-nilai kemanusiaan. Saya jadi membayangkan deita Isa yang tersalib di tengah kemrumunan orang-orang yang tak pernah merasa dirinya berdosa. Kisah universal ini tampaknya tak cukup diapresiasi oleh umat kristiani, tapi juga oleh mereka yang peduli akan nilai-nilai kemanusiaan. Mudah2an penyaliban Isa menjadi *halah sok tahu nih* pelajaran berharga bagaimana kita seharusnya mengapresiasi nilai2 kemanusiaan, terlepas dari keyakinan yang diimaninya.

    Posted by sawali tuhusetya | Desember 26, 2007, 10:45 pm
  17. waduh aku komen opo ki? apik mas (sok tahu) btw kok baru di posting sekarang? nulise wes 7 th kepungkur. eh ngerti bahasa jawa ngga sih hahahaha..

    Posted by de | Desember 27, 2007, 5:41 am
  18. @ Nico: eh mas, lama gak ketemu yak! kapan2 kopdar lagi yuk!
    @ Sawali: pertamax dikulak pak Kurt.. hehehehe.. nggih, pak. mudah2an ‘prosesi penyaliban’ itu benar2 bermakna bagi manusia dan kemanusiaan..
    @ de: hehehe, makasih mbak dah mau mampir.. ini postingan emang lama banget, waktu masih tinggal di djogdja.. dulu belum ada blog jadi gak sempat mempublikasikannya.. jugak baru ketemu tulisan aslinya di antara arsip lama..πŸ˜‰

    Posted by gempur | Desember 27, 2007, 6:52 am
  19. saya sebenernya tau gaya penulisan model kayak gini
    jadi inget waktu baca kahl gibran “risalah cinta”
    makkkkkkkknyyyyyuuussssssss

    Posted by rizky | Desember 27, 2007, 8:35 pm
  20. @ Rizky: wah, pengagum gibran ya?!πŸ˜‰

    Posted by gempur | Desember 27, 2007, 11:15 pm
  21. maksudnya apa seh pak???????????

    apa ada hub sama agamaku y?????????

    Posted by veron | Desember 28, 2007, 11:21 am
  22. Semua orang pada jago sastra yah.. kayaknya ridu aja deh yang cupu!!

    Posted by ridu | Desember 28, 2007, 11:23 am
  23. @ veron: kaitannya ada..! gak ngerti? sama dong?! hehehehe
    @ ridu: halah, wong cuman bermain kata-kata aja kok mas!

    Posted by Gempur | Desember 28, 2007, 1:29 pm
  24. itu apaan pak????

    Posted by deemsz | Desember 28, 2007, 2:25 pm
  25. apa maksudnya pak???aku ga ngerti!!

    Posted by deemsz | Desember 28, 2007, 2:28 pm
  26. huhuhuhu
    saya sudah tertipu di rumah saya.
    kewl…..

    gimana kalau isanya ternyata tidak dipenjara tapi yang diluar selain dia yang terpenjara? cuma sayang penjaranya terlalu besar sampe nggak nyadar batas dindingnya sebelah mana. huhuhuhu

    tanah, angin, air, api menunggu titah?
    hmmmm…
    ihh, serem jadi takut..

    Posted by bedh | Desember 28, 2007, 2:40 pm
  27. @ Deemsz: sama, saya juga gak mudeng!
    @ bedh: saya tak bermaksud menipu lhhooo.. sepakat, berhubung di luar dirinya tak merasa terpenjara, jadinya, Isa sendiri yang terpenjara.. kira2 demikian.. bisa ya bisa tidak.. ehhmm, bingung..

    Posted by gempur | Desember 28, 2007, 3:42 pm
  28. Saudaraku, aku akan sangat malu pada Muhammad jika kalian turun tangan
    Saudaraku, beri aku kesempatan menebus hutangku pada Muhammad.
    Untuk itu bantu aku menemukan sahabat-sahabatku.

    Pak, masa’ Isa itu ada setelah Nabi Muhammad. Opini baru nich..

    ”Oh, Tuhan. Bencana apa ni? Apa memang sudah tiba waktunya?”

    Pak, menurut orang Kristiani kan Isa=Jesus Kristus=Tuhan.
    Masa’ Tuhan panggil Tuhan..??
    Capek dech…

    Posted by the reader | Desember 28, 2007, 7:58 pm
  29. bapak,,,aku emang selalu bernasib pemberi komentar teakhir untuk blog sampean…hehehehe,,,

    jujur, aku ngeprint puisi itu dulu,,dan masih tak simpan…
    dan aku masih penasaran dan sama sekali tak puas dengan pemahaman yang aku dapet sendiri…
    aku tahu ada sketsa yang ditoreh lebih dalam dari puisi itu…
    dan sampai sekarang…
    ….still confuse…

    Posted by hanna | Januari 4, 2008, 8:09 pm
  30. @ Hanna: Ada latar mistis yang menjadikan saya bersemangat menuliskannya.. Belum sempat kuceritakan padamu.. nanti kalo ketemu tolong saya diingatkan.. hehehehehe

    Posted by gempur | Januari 4, 2008, 8:18 pm
  31. β„’ NDAK NGERTI β„’

    Posted by blOld | Agustus 10, 2008, 9:30 pm
  32. I guess that to get the loans from banks you should have a good reason. Nevertheless, once I have got a car loan, just because I was willing to buy a house.

    Posted by Katie34Donovan | September 19, 2011, 5:55 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: