//
you're reading...
Aku dan Pikiranku, Belajar, Perempuan

Pekerjaan Domestik itu Produktif

Pekerjaan rumah tangga yang lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan [biasa disebut pekerjaaan domestik] seringkali tidak diakui sebagai pekerjaan yang produktif. Tidak menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi bahkan tak menghasilkan sama sekali. Sehingga masyarakat memberi penilaian, ibu rumah tangga bukanlah sebuah profesi yang menguntungkan apalagi memiliki nilai gengsi. 

Paragraf di atas bukanlah barang baru. Tema ini menjadi bahan kajian yang serius lagi mendalam bagi aktifis gerakan perempuan. Menjadi penting untuk diungkap karena materi ini masih sangat relevan dengan keberadaan dan keberlangsungan keluarga yang hidup di dunia modern yang mengarah ke era posmo bahkan mungkin malah sudah posmo. Kontrak sosial di masyarakat yang berlaku memang masih belum menghargai posisi mereka terutama perempuan yang mayoritas berkutat di sektor domestik.

Pekerjaan mencuci, membersihkan rumah, mengasuh anak tidak dianggap sebagai pekerjaan yang menghasilkan keuntungan finansial sebagaimana pekerjaan di luar rumah [sektor publik] seperti menjadi direktur, manager, sekretaris, guru, pegawai di instansi negara dan swasta. Akibatnya, menjadikan mereka yang bekerja di sektor domestik tidak mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Mereka tidak dianggap menyangga perekonomian keluarga, tidak menyumbang angka pertumbuhan ekonomi baik di tingkat desa, kecamatan, kota bahkan negara. Meski menjadi berharga ketika pekerja domestik itu lari ke luar negeri menjadi TKI. Tiba-tiba saja mereka menjadi pahlawan devisa, bahkan menyumbang angka cadangan devisa negara. Toh, mereka tetap dipandang sebelah mata. Payung hukum yang tak jelas, perlindungan dan advokasi yang lemah menjadikan sederet penderitaan mereka tak kunjung reda. Sekedar pengakuan saja, tetap menjadi barang mahal di negeri ini untuk mereka.

Kompleksitas akar masalah dari kurangnya penghargaan masyarakat akan pekerjaan domestik menjadi menarik untuk dikaji dan disampaikan ulang secara meluas. Bahwa membicarakan tema ini tak akan cukup dengan satu artikel sependek ini. Perlu pemahaman mendalam dan disampaikan secara berkala yang jelas akan menguras tenaga, waktu dan pikiran untuk membaca ulang sederet referensi yang ada. Untuk kemudian didiskusikan, dicari rumusan sederhana, lalu diformulasikan beberapa solusi yang pantas dan layak untuk diperjuangkan. Tentunya dengan keterbatasan media yang ada.

Bisa dibayangkan jika sebuah keluarga baik istri dan suami bekerja di sektor publik sementara sektor domestik diserahkan kepada pekerja rumah tangga atau disingkat PRT [biasa disebut dengan Pembantu Rumah Tangga]. Anggaran sebulan yang dikeluarkan untuk PRT saja mencapai 400-600 ribu sebulan. Untuk baby sitter professional menyentuh angka di kisaran 600 ribu hingga 1 juta, bergantung pada masing-masing daerah. Jika dikalkulasi secara kotor, pengeluaran keluarga tersebut untuk pekerjaan domestik mencapai angka 1 hingga 2 juta. Belum termasuk biaya lain-lainnya. Maka sepantasnya masyarakat harus mengakui bahwa pekerjaan domestik itu pekerjaan yang mulia. Menopang keberlangsungan keluarga. Bernilai ekonomi yang tinggi. Menghemat finasial bulanan yang tak rendah nilainya bagi mereka yang memiliki istri bekerja di sektor publik.

Jika tidak, maka pertanyaannya, berapa harga yang pantas dikeluarkan suami untuk menggaji para istri yang bekerja 24 jam non-stop? Atau seberapa besar pengertian dan penghargaan pada istri untuk sekadar berbagi dan sekadar menanamkan nilai bahwa istri layak dihargai, dihormati dan dijunjung tinggi?

—***—

Artikel ini saya persembahkan untuk istri saya tercinta sebagai bentuk pengakuan dosa dan kelemahan bahwa saya tak akan pernah bisa menggajinya dengan layak dengan pilihannya untuk bekerja di sektor domestik. Merawat saya dan anak saya, menyiapkan secangkir kopi untuk melepas kebutuhan citarasa. Kasur yang selalu rapih yang siap saya tiduri saat saya lelah. Sekaligus penghargaan dan pengakuan saya kepadanya bahwa pilihan ekstrimnya itu sungguh sangat mulia dengan gelar akademik Universitas Gadjah Mada di belakang namanya.

Artikel ini juga menjadi penanda, sebagai awal dari rangkaian tulisan yang akan saya tuliskan untuk mereka, "para perempuan". Juga sebagai bentuk kembalinya saya untuk belajar dan belajar.

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

38 thoughts on “Pekerjaan Domestik itu Produktif

  1. wah, jadi menyentuh banget nih, pak gempur kalo pengabdian dan kesetiaan istri dikaitkan dg penghasilan seorang PRT *halah* saya pikir ndak akan bisa pak seorang suami nggaji istrinya. saya kira juga ndak ada seorang istri yang minta gaji pak. mereka tulus mendampingi hidup sang suami di mana pun karena landasan kasih sayang *halah* dan itu ndak akan bisa dibayar dengan apa pun. tentang istri yang bekerja di sektor publik menjadi perempuan karier pada era global sekarang tampaknya juga masih menjadi persoalan rumit dan kompleks, pak. itu tergantung dari persepsi setiap orang. ketika kesetaraan gender diluncurkan, pekerjaan seorang istri tidak lagi hanya berurusan dengan dapur, sumur, dan kasur saja, tapi sudah merambah ke sektor publik. bahkan, banyak juga kaum perempuan yang memegang posisi kunci di sektor2 publik itu. kalo bisa sih kaum perempuan menjadi sosok androgini, feminim dalam kehidupan domestik, sekaligus maskulin dg prestasi yg setara dg kaum pria. *halah*

    Posted by sawali tuhusetya | Januari 6, 2008, 1:51 am
  2. Pak, saya salut dengan njenengan. Sungguh. Pasti istri njenengan bangga punya suami seperti njenengan, yang penuh perhatian dan kasih sayang. Nggak seperti saya, yang begitu duduk di depan monitor, lalu lupa semuanya, sampai-sampai saya nggak sadar kalo “dia” sudah jatuh ke pelukan orang lain.😦

    Posted by STR | Januari 6, 2008, 2:01 am
  3. memang njenengan merupakan suami teladan… salut dan dua jempol untuk njenengan….

    Posted by Anang | Januari 6, 2008, 2:10 am
  4. penuh inspirasi bagi saya untuk bersyukur memiliki seorang ibu yang pengertian, dan sepatutnya kita menghormati hak hak wanita..

    betul pak ??

    thanks a lot atas traktirannya..

    Posted by andi bagus | Januari 6, 2008, 2:10 am
  5. bener-bener gak salah pilih istri pak gempur, untuk hidup bersama dengan bapak!.. ini merupakan sebuah realita yang harus ditiru bagi kita-kita calon bapak dan calon ibu..

    Posted by khuclukz | Januari 6, 2008, 2:16 am
  6. semoga semua lelaki beristri berfikiran seperti bapak..amiiinnn

    Posted by icha | Januari 6, 2008, 3:13 am
  7. Pak Gempur,
    Mungkin karena budaya kita, menyebabkan pekerjaan domestik kurang dihargai, padahal di luar negeri dihargai mahal.Bahkan kadang, kalau orang bisa mempunyai pembantu (saya istilahnya asisten rumah tangga…karena mereka memang menjadi asisten untuk hal yang tak dapat dikerjakan oleh majikan, karena majikan berkarir diluar rumah)…biasanya memperlakukan pembantu sesuka hati. Postingan saya banyak membahas mereka ini, karena saya memperlakukan mereka seperti saudara, ada yang disekolahkan, dan jika sudah mandiri, bisa diterima kerja di kantor, entah sebagai pegawai adm atau sopir, dilepas.

    Ibu yang bekerja dikantor pun, tetap melakukan pekerjaan domestik ini, menyapu, mengepel, memasak, menjahit…juga menemui guru/dosennya anak-anak. Mungkin yang enak malah para bapak, jika ada anak bermasalah, yang disalahkan ibunya yang berkarir, tapi kalau si anak sukses, anaknya bapak. Bagi saya tak masalah, biarlah menjadi anaknya bapak, asalkan dia berhasil dalam studi, berperilaku baik, menjadi anak yang sholeh.

    Wanita yang berkeluarga memang menjadi pendamping suami, dan wanita bekerja diluar rumah juga atas ijin suami, jadi saya tetap bersyukur atas dukungan suami. Andai saya tak punya suami sepeti suamiku, belum tentu karir saya seperti ini, bahkan setelah pensiun pun, saya masih bekerja (namun waktu lebih longgar, sebagai komisaris di salah satu perusahaan, dan pengajar profesional di Lembaga Pendidikan). Saya banyak mengenal wanita sepertiku, dan banyak yang jabatannya melebihi saya…namun dirumah tetap ibu rumah tangga, mendatangi acara pameran lukis anaknya, momong anak jalan-jalan ke toko buku dsb nya, serta menghormati suami.

    Jadi pekerjaan domestik itu bukanlah pekerjaan yang hina, andaikata saya punya kemampuan/ketrampilan, yang bisa bekerja dan menghasilkan uang sekedarnya tanpa meninggalkan rumah, pasti inilah yang saya pilih. Sayangnya saya tak punya ketrampilan, sedangkan tanpa bekerja…saya takut terjadi sesuatu, yang membuat anak keleleran (suami meninggal, sakit menahun, cacat hidup ataupun selingkuh). Ya, wanita yang menikah harus juga mempersiapkan diri, jadi harus punya ketrampilan atau kemauan, jika sewaktu-waktu suami tak bisa lagi memberikan nafkah, karena ada anak yang masih harus dipikirkan.

    Mungkin yang harus disosialisasikan adalah, keberhasilan rumah tangga dan pendidikan anak, adalah hasil kerjasama suami isteri. Dan suami maupun isteri bertanggung jawab atas kelangsungan rumah tangga tsb, sehingga menghasilkan anak yang baik,anak yang sholeh, memberi contoh pada lingkungan, bagaimana melakukan kerjasama yang baik tersebut. Pekerjaan apapun, harus dinilai sesuai porsinya, bahkan saat ini saya banyak melihat para bapak belanja di supermarket, di pasar, membantu memasak…..Banyak juga isteri berkarir di luar rumah, sedang malah suami yang karirnya di rumah. Dengan kemajuan teknologi, segala sesuatu mungkin terjadi. Jika berkarir dirumah dapat menghasilkan uang, kenapa tidak? Daripada pagi-pagi sudah bermacet ria di jalan.

    (maaf kok jadi panjang banget ya)

    Posted by edratna | Januari 6, 2008, 7:19 am
  8. wah..suami teladan. Pekerjaan domestik emang punya banyak seni lho Pak..dan FYI saja, ga semua wanita bisa melakukannya. Anda beruntung..

    Posted by stey | Januari 6, 2008, 10:43 am
  9. Benar banget tuh, kebanyakan PRT memang dipandang sebelah mata bahkan tak jarang nggak dipandang. Padahal mereka dirindukan saat mereka pulang kampung, karena rumah berantakan, baju kotor numpuk, makan selalu beli di luar dan banyak lagi. Tapi hebatnya Istriku bisa mengatasi semua yah dibantu-bantu dikit lah gitu.
    Mesti aku gaji berapa yaa istriku?

    Posted by hadi arr | Januari 6, 2008, 2:15 pm
  10. temen saya istrinya S2 tapi memilih di rumah. lha sekarang kan jamannya sebetulnya udah bisa kerja di rumah. blogger profesional kan relatif gak perlu ke mana-mana. tapi tergantung pekerjaannya sih. banyak juga yang sama-sama kerja di rumah kayaknya.

    Posted by Siti Jenang | Januari 6, 2008, 5:38 pm
  11. itulah hebatnya seorang ibu bagi anaknya
    dan seorang istri bagi suaminya.

    *jadi kangen ama Mamak di rumah neh*

    Posted by aLe | Januari 6, 2008, 11:33 pm
  12. ekerjaan rumah tangga yang lazimnya dilakukan oleh kaum perempuan [biasa disebut pekerjaaan domestik] seringkali tidak diakui sebagai pekerjaan yang produktif. Tidak menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi bahkan tak menghasilkan sama sekali. Sehingga masyarakat memberi penilaian, ibu rumah tangga bukanlah sebuah profesi yang menguntungkan apalagi memiliki nilai gengsi.

    ————
    saya ini orang bodoh… ga sekolah…. dan tinggal di sebuah pulau terpencil…
    tapi perasaan……
    saya mikirnya ‘ga gitu-gitu amat….🙂

    *sebuah wacana yg menarik…*
    *jempol….*

    ——-
    usulan » bikin anti spam’nya jgn susah-susah bgt donk… plissssss…

    Posted by antar pulau | Januari 7, 2008, 1:00 am
  13. Wah salut saya sama istri Bapak. Bagi saya pekerjaan ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia. Sekarang jarang sekali mencari wanita yang ingin menjadi Ibu Rumah Tangga, apalagi yang sekolahnya tinggi-tinggi, lebih memilih untuk berkarir.

    Kalo aku malah pengen banget jadi Ibu Rumah Tangga, ngurus anak dan suami nanti, mo diledekin percuma sekolah tinggi, tapi bagi saya mengurus rumah tangga itu sudah menjadi nature seorang wanita hohohoho ^o^

    NB: Kalau bisa aku pengen jadi mami yang tiap hari anterin anak ke sekolah dan siangnya belanja, ke salon,arisan, dll, pasti seru hohoho ^o^

    Posted by LiSan Skywalker | Januari 7, 2008, 1:39 am
  14. @ Sawali :

    pak gempur kalo pengabdian dan kesetiaan istri dikaitkan dg penghasilan seorang PRT halah saya pikir ndak akan bisa pak seorang suami nggaji istrinya.

    Maksudnya emang begitu, gak akan bisa seorang suami menggaji istrinya. Maka dari itu, selayaknya seorang suami lebih mngerti akan keadaan istri. Jangan memperlakukan istri dengan sikap menyepelekan dll. Apalagi kalo dah pas marah, misal aja sang suami teriak kenceng2: “Enak-anakan di rumah, ngabisin duit yang hasil kerjaku.. Anak gak diurus, ngapain aja kamu seharian?” hehehehehe.. misal aja marahnya begitu.. tapi mudah2an pembaca blog saya tak ada yang seperti itu.. Amin Allahumma Amin

    kalo bisa sih kaum perempuan menjadi sosok androgini, feminim dalam kehidupan domestik, sekaligus maskulin dg prestasi yg setara dg kaum pria. halah

    Ini yang dinamakan dengan beban ganda dari seorang perempuan yang bekerja di sektor publik. Setelah ia usai dengan pekerjaannya, seharusnya ia bisa istrirahat seperti layaknya mereka para lelaki yng bekerja di sektor publik. Namun, tuntutan menjadi lebih karena ia seorang perempuan, sehingga ia harus bekerja lagi sesampainya di rumah, mengerjakan pekerjaan domestik, sementara laki-laki tinggal tidur nyenyak.. hehehehehe.. Ini yang kemudian dinamakan ketidaksetaraan gender. Bahwa pekerjaan domestik milik perempuan yang sebenarnya TIDAK. Pekerjaan domestik miliki semua manusia dan harus diselesaikan oleh mereka yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Kecuali menyusui dan beranak, jelas itu milik perempuan, meskipun ada yang beranggapan, bahwa menyusui sendiri dan beranak adalah pilihan dari sang perempuan. halah. ngelantur sejauh ini.. Bagi saya yang terpenting adalah kesepakatan antara suami dan istri dalam membagi pekerjaan di ranah publik dan domestik yang tentunya disepakati secara sadar. Sehingga tak ada gugat-menggugat ini pekerjaan siapa itu kerja siapa. Kuncinya saling menghargai dan saling menyadari. Beres Masalah.

    @ Semua :
    MAAF, TANGGAPAN SAYA ATAS SEMUA KOMENTAR AKAN SAYA LANJUTKAN SETELAH SAYA MENYELESAIKAN TUGAS, KEBETULAN SAJA SETELAH MENGOMENTARI PAK SAWALI, TIBA2 BRUKKKK! SETUMPUK KERJA SUDAH MENUNGGU.. DISKUSI YANG MENARIK… MAAF SEKALI MAAF.. NANTI SAYA LANJUTKAN..

    @ Anang:
    Kalo dua jempol sih kurang mas! emang gak ada jempol lainnya.. jempol kaki boleh kok! wakakakakakak

    @ AndiBagus:
    Sepatutnya kita hormati wanita, jangan seperti kemaren, giliran foto dan narsis aja, ceweknya dilupain..😀

    @ Khuzlukz:
    Emang gak salah kok, yang salah yang sering ditinggalin ceewknya ngluyur gitu ajah.. hahahahahaha😀

    @ Icha:
    Makasih mbak, dah mau mampir.. gimana kabar lelaki Mesir?! hehehehehe

    @ Edratna:

    Postingan saya banyak membahas mereka ini, karena saya memperlakukan mereka seperti saudara, ada yang disekolahkan, dan jika sudah mandiri, bisa diterima kerja di kantor, entah sebagai pegawai adm atau sopir, dilepas.

    Masya Allah, mudah2an seluruh majikan di dunia bisa seperti njenengan Bu! Amin Allahumma Amin… Jarang-jarang yan begini soalnya.. hehehehe

    Ibu yang bekerja dikantor pun, tetap melakukan pekerjaan domestik ini, menyapu, mengepel, memasak, menjahit…juga menemui guru/dosennya anak-anak. Mungkin yang enak malah para bapak, jika ada anak bermasalah, yang disalahkan ibunya yang berkarir, tapi kalau si anak sukses, anaknya bapak. Bagi saya tak masalah, biarlah menjadi anaknya bapak, asalkan dia berhasil dalam studi, berperilaku baik, menjadi anak yang sholeh.

    ibu memang luar biasa.. contoh ibu teladan, meski menyandang ‘beban ganda’ ibu tetap menerimanya dengan ikhlas, meski anak ibu kalo sukses diakui anak bapak bukan anak ibu.. hebad.. Salut utuk Ibu…

    Maaf, bu! Akan ada artikel berseri untuk membahas masalah ini dan komentar lanjutan saya akan saya tuangkan dalam bentuk artikel. Sedang dalam proses penysusunan.

    @ STEY:
    yup, saya memang beruntung kok pak! hehehehehe… Mudah2an selamanya beruntung..

    @ hadi arr:
    Istri bapak gak perlu digaji, disayang ajah, hehehehehe.. pembantunya kalo mo pulang disangoni duit yang banyak dan rasa terima kasih yang tulus, Insya Allah mereka sdh senang bisa dimanusiakan..

    @ Sitijenang:
    Pada prinsipnya kerja di mana saja tak masalah.. asal dalm alam bawah sadar kita sudah tertanam untuk saling menghargai dan menyayangi serta saling mengerti, dunia Insya Allah Aman dan tenteram..😉

    @ Ale:
    Ya udah pulang lagi sana.. kemaren aja oleh2nya blum nyampe mosok balik lagi..😉

    @ Antarpulau:
    Ya syukurkah, itu tandanya sampean orang yang baik dan rendah hati.. maknya di tempat sampean aman2 saja hehehehe.. btw, antispamnya sudah default.. mau diilangin tapi males utak-atiknya.. hahahahaha

    @ Lisan Skywalker:
    Saya doakan mendapatkan jodoh yang baik yang saling pengertian satu sama lain, jarang berantem, sayang-sayangan terus.. Amiiiiiii…

    Posted by gempur | Januari 7, 2008, 9:29 am
  15. Saya tunggu.😀

    Posted by STR | Januari 7, 2008, 10:32 am
  16. @ STR:

    Nggak seperti saya, yang begitu duduk di depan monitor, lalu lupa semuanya, sampai-sampai saya nggak sadar kalo “dia” sudah jatuh ke pelukan orang lain.😦

    Hiks… Sebegitunyakah?! biasanya orang model gini orang yang dingin pada wanita.. hati2 loh! wanita itu butuh kehangatan tak ingin kedinginan.. sama seperti laki2.. hahahahaha

    Posted by gempur | Januari 7, 2008, 11:04 am
  17. sampeyan itu memang pantes jadi suami dan bapak bagi anak-anak yang teladan..

    Posted by Anas | Januari 7, 2008, 11:13 am
  18. Klo dipikir2 kykna labeh capek Ibu Rumah Tangga daripada bapak kantoran…😀

    Posted by Praditya | Januari 7, 2008, 11:18 am
  19. memang jadi seorang ibu sekaligus istri sangat berat apalagi ketika mengandung dan melahirkan seorang anak. Pertaruhannya adalah nyawa.. beliau (kaum ibu) rela membawa kandungannya kemana ia pergi. Ke kamar.. Ke teras.. dan lain-lain

    Posted by Anas | Januari 7, 2008, 11:33 am
  20. @ Anas:
    Itulah kenapa posisi perempuan wajib kudu dijunjung tinggi.. bagi yang punya anak perempuan, silakan dididik menjadi perempuan yang baik hati dan sholihah.. Dan bagi yang punya anak laki-laki wajib dididik menghargai wanita..

    @ Anas:
    Yup, itu bener, lebih capek ibu rumah tangga dari pada kerja kantoran.. saya sendiri pernah melakukan riset kecil pada saat liburan.. hanya mengasuh anak aja capeknya setengah mati.. dari bangun tidur, mandiin, nyuapi, ngganti celana kalo ngompol dan lain-lain… saya jamin, kalo semua orang bisa memahami posisi perempuan, dunia akan aman..😉

    Posted by gempur | Januari 7, 2008, 1:30 pm
  21. pekerjaan domestik istri sesungguhnya menjadi luar biasa dan tak ada nilainya, karena dia menjadikan tiang pondasi keluarga. Mendidik anak, mengawasi mereka belajar ( disaat kita para suami berada di luar rumah )..

    Posted by iman brotoseno | Januari 7, 2008, 1:37 pm
  22. @ Iman Brotoseno
    Betul sekali itu mas! istri layak mendapatkan tempat yang lebih bagi para suami.. kerjaannya menumpuk 24 jam nonstop, lebih daripada laki2.. makasih atas kunjungannya.. hehehehe

    Posted by gempur | Januari 7, 2008, 1:48 pm
  23. walah menyentuh banget postingnya nih

    Posted by ario dipoyono | Januari 7, 2008, 3:56 pm
  24. waduh perlu penghargaan dong kalau gitu, nama penghargaannya apa yach

    Posted by dodot | Januari 7, 2008, 8:14 pm
  25. sebuah pilihan yang patut kita hargai untuk para istri yang memilih pekerjaan domestik ini. tanpa mereka mungkin kita tidak bisa seperti sekarang ini. karena selain mengurus rumah tangga mereka juga selalu mensupport kita dengan ikhlas.

    Posted by Totok Sugianto | Januari 8, 2008, 12:25 am
  26. @ ario dipoyono:
    menyentuh apa mas?! jangan sampe menyentuh yang nggak2 lhooo!😉

    @ dodot:
    kasih aja penghargaan di hari ibu.. atau penghargaan istri.. hehehe

    @ Totok Sugianto
    Betul sekali mas! kita gak akan bisa sukses tanpa peranan mereka.. dua jempol untuk para istri..

    Posted by gempur | Januari 8, 2008, 7:27 am
  27. Hmm… setuju, selain itu memang kewajiban istri (ibu) itu juga merupakan bukti kasih sayang istri(ibu) kepada keluarga

    Posted by ridu | Januari 8, 2008, 8:29 am
  28. OPTIMIS VERSUS PESIMIS

    ORANG OPTIMIS BUKANLAH ORANG YANG KARENA MELIHAT JALAN MULUS DI HADAPANNYA, TETAPI ORANG YANG YAKIN 100% DAN BERANI UNTUK MENGATASI SETIAP TANTANGAN YANG MENGHADANG.

    Ada 2 macam manusia dalam menyikapi hidup ini, satu sikap orang yang pesimis dan ke-dua adalah orang yang bersikap optimis.

    Tipe pertama orang pesimis, bagi orang pesimis kehidupannya lebih banyak dikuasai oleh pikiran yang negatif, hidup penuh kebimbangan dan keraguan, tidak yakin pada kemampuan diri sendiri, kepercayaan dirinya mudah goyah dan mudah putus asa kalau menemui kesulitan atau kegagalan, selalu mencari alasan dengan menyalahkan keadaan dan orang lain sebagai proteksi untuk membenarkan dirinya sendiri, padahal di dalam dirinya dia tahu bahwa betapa rapuh mentalnya, orang pesimis lebih percaya bahwa sukses hanyalah karena kebetulan, keberuntungan atau nasib semata.

    Tentu orang dengan sikap mental pesimis seperti ini, dia telah mengidap penyakit miskin mental, jika mental kita sudah miskin, maka tidak akan mampu menciptakan prestasi yang maksimal dan mana mungkin nasib jelek bisa dirubah menjadi lebih baik.

    Tipe ke 2 adalah orang optimis, bagi orang yang memiliki sikap optimis, kehidupannya didominasi oleh pikirannya yang positif, berani mengambil resiko, setiap mengambil keputusan penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang mantap. orang optimis bukanlah karena melihat jalan mulus di hadapannya, tetapi orang yang mempunyai keyakinan 100% dalam melaksanakan apa yang harus diperjuangkan, orang optimis tahu dan sadar bahwa dalam setiap proses perjuangannya pasti akan menghadapi krikiil -krikil kecil ataupun bebatuan besar yang selalu menghadang!

    Orang optimis siap dan berani untuk mengatasi masalah atau kesulitan yang merintanginya, Bahkan disaat mengalami kegagalan sekalipun tidak akan membuat dia patah semangat, karena dia tau ada proses pembelajaran disetiap kegagalan yang dia alami.

    Tentu orang yang punya sikap mental optimis demikian adalah orang yang memiliki kekayaan mental. dan Hanya orang yang mempunyai kekayaan mental, yang mampu mengubah nasib jelek menjadi lebih baik.

    Jika anda, saya dan kita semua secara bersama-sama mampu membangun kekayaan mental dengan berkesinambungan, mampu menjalani hidup ini dengan optimis dan aktif, tentu secara langsung akan berpengaruh pada kehidupan kita pribadi serta kehidupan keluarga, dan dari kehidupan keluarga -keluarga yang semangat, optimis dan aktif akan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara luas, yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan sinergi sebagai kontributor dalam membangun Indonesia sekaligus mengembalikan jati diri bangsa! Kalau bukan kita yang membangun Indonesia, lalu siapa?

    http://www.lcc-ptc.com

    Posted by lcc-ptc | Januari 8, 2008, 8:50 am
  29. pekerjaan domestik itu justru melengkapi pekerjaan formal yang ada. Bahkan jika pekerjaan domestik tersebut ditiadakan/dikurangi maka bisa juga berdampak pada produktivitas pekerjaan formal, jadi saya rasa baik pekerjaan domestik maupun pekerjaan formal memiliki hubungan yang sangat erat. dan patut diintegrasikan dengan baik.

    Posted by nico kurnianto | Januari 8, 2008, 9:35 am
  30. Saya juga termasuk pekerja domestik lho meski saya seorang lelaki dan saya sangat menghargai pekerjaan domestik meski sebagian pekerjaan itu saya serahkan kepada orang lain🙂

    Posted by Andi Eko | Januari 8, 2008, 11:53 am
  31. Justru saya sangat kagum dengan para ibu rumah tangga yg lebih memilih ‘berkarier’ dirumah, salut !

    Blog ini saya Link.
    -Ajie-
    http://kodokijo.net

    Posted by Ajie | Januari 8, 2008, 2:58 pm
  32. @ Ridu:
    saya juga setuju.. lho kok masih blogwalking, katanya UAS hehehe

    @ lccptc:
    Setuju 100% dengan anda pak, artikelnya bagus2 tuh!

    @ nico kurnianto:
    Ya, memang demikian adanya, tak boleh ada peng-anaktiri-an terhadap pkerjaan domestik..😉

    @ Andi Eko
    Salut abiz mas dengan njenengan.. Sebuah keberanian seorang laki-laki bekerja di sektor domestik.. hehehehehe

    @ Ajie:
    Ya, pak! saya juga salut abiz buat mereka yang bekerja di sektor domestik.. Makasih sudah nge-link ke sini..

    Posted by gempur | Januari 8, 2008, 4:42 pm
  33. sebuah pekerjaan sangat mulia yg tak bisa dinilai harganya..

    Posted by deteksi | Januari 8, 2008, 6:47 pm
  34. Yah, sebagai calon suami harus belajar banyak dari yang sudah pengalaman… hahahahahahahahaha

    Posted by gempur | Januari 9, 2008, 7:35 am
  35. wah jadi teringat ma istriku dirumah
    oh Sayang betapa selama ini kau telah berikan segalanya untukku
    maaf yah
    aku sering melupakan itu

    Posted by tomy | Januari 9, 2008, 10:01 am
  36. Hoooahm….LAma hibernasi nih pak..Heheh..sorri ndak pernah mampir..
    Ya, saia juga berpikir seperti itu, kalo saia liat, Mak yang begitu super ngerjain pekerjaan rumah segitu bejibunnya, saia jadi merasa berdosa…
    Ndak oernah mbantuih, pulang sekolahnya sore…
    Sore gitu harus garap pe-er.
    Belum kalo Ulangan..
    Les…
    Siapa yang salah dunk?
    Ndak mungkin kita begitu saja menelantarkan kewajiban sebagai siswa, tapi, juga ‘Bebal’ sekali kalo sampe menyia-nyiakan waktu untuk berbakti pada ortu.
    At Least, tiap hari Minggu, saia nyuci baju sendiri..
    Heheh,
    Lumayan…bantu dikit..

    Piipisss…

    Posted by Shei | Januari 9, 2008, 12:43 pm
  37. saya sangat menghargai pemikiran sampean … sudah selayaknya para bapak berempati pada apa yang dilakukan para istri…sayang sekali yang punya pemikiran seperti sampean kurang begitu banyak…kenyataannya banyak juga para suami yang senang dibantu istrinya mencari nafkah dengan bekerja di sektor publik supaya cepat kaya dan merasa lebih bangga punya istri yang karirnya bagus dan gaya (ke kantor katanya lebih gaya)..dan tentu saja urusan domestik menjadi urusan pembantu dan orangtua (kasihan juga orangtua yang masih saja dititipi cucu , padahal capeknya luar biasa ngemong anak kecil …dengan badan yang sudah mulai renta, sedang kalau anak dapet gaji ortu gak dikasih…walaupun mungkin namanya ortu gak bakal minta imbalan..tapi kayaknya pada merem aja dengan kenyataan ini…)
    hayoo para suami mandirilah dalam segala hal …finansial dan mental ..bekerjalah dengan baik sebagai bagian dari jihadmu….dan para istri jadilah istri yang tahu akan kewajibanmu yang utama, potensi diri bisa dikembangkan tanpa harus melepaskan kewajiban utama ….

    salam hangat dari seorang wanita yang mau belajar menjadi istri yang sholeha..dan terus mengembangkan potensi dirinya

    Posted by Eva | Januari 15, 2008, 9:56 am
  38. Sebagian orang beranggapan pekerjaan ibu rumah tangga hanya sebelah mata. Tanpa kita sadari wanita adalah tiangnya negara, semua berawal dari dia. Karena wanita adalah pembentuk kepribadian generasi muda.
    Bukan maksud untuk membandingkan, ibu rumah tangga memiliki sisi positif dibanding dengan wanita karir. coba kita renungkan, bila ibu-ibu sibuk bekerja maka rumah tangga akan kehilangan ratunya. Dan bukan salah remaja bila mereka binal, bukan salah remaja bila tidak bermoral. Anak memang perlu pakaian, makanan dll. Tp yang mereka perlukan adalah tulusnya kasih sayang. Jadi tugas seorang ibu disini begitu berat dibandingkan hanya memenuhi tuntutan financial saja.

    Posted by Sure | Februari 1, 2008, 11:27 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: