//
you're reading...
Budaya

Dendam Cinta Tuntas Sudah

Dia pergi ketika syahadat kulafalkan di telinganya 7 kali. Dia pergi ketika sepertiga malam terakhir baru saja dimulai. Ya, koma ini harus diakhiri titik. Semua hembusan nafas pasti ada ujungnya. Ujungmu ujung yang indah. Kau rangkum yang terberai untuk menyatu dan menyatakan penyesalan dosa masa lalu. Kutatap ribuan doa bertebaran di atas langit pusaramu.

Pak, aku tak ingin berlebihan, tapi jalan setapak kebaikan yang kau bangun sedari dulu aku mengenalmu telah mengantarkanmu pada ujung yang indah. Keberpihakanmu pada yang lemah, empatimu pada yang bernasib kurang beruntung seringkali membuatku menangis.

Aku masih teringat kau ajak kami jalan-jalan pagi menyusuri tepian jalan, pinggiran kali, melewati kolong jembatan, pinggiran rel kereta sekadar menunjukkan betapa beruntungnya kita yang bisa tidur nyenyak di atas kasur. Sementara banyak dari mereka yang tidur dalam gelisah di atas gerobak sampahnya, di atas becaknya, di emperan toko-toko dan gubug-gubg sederhana dari kardus dan triplek-triplek bekas.

Pak, hingga akhir hayatmu, kau masih suka membeli banyak makanan yang tak kau butuhkan dari penjaja makanan keliling yang ujung-ujungnya terbuang kadang kau berikan ke orang. Kau beli bukan karena suka, juga bukan karena rakus, tapi karena rasa iba.

Pak, aku tak ingin membuka luka lama semua perselisihan kita, karena pada dasarnya engkau orang lama yang bertahan dengan prinsip dan visimu yang seringkali tak sejalan dengan kekinian dan kau masih menggunakan cara lama dengan konteks jamanmu dan kau cenderung memaksakannya.

Pak, sejatinya kita sering berselisih bukan hanya saat aku menginjak SMA dan kuliah bahkan berkeluarga. Kita berselisih sejak kau dengan kelelakianmu mengangkangi hak-hak emak untuk hidup layak sebagai istri bagimu dan ibu bagi kami anak-anakmu. Kejantananmu dulu melukai kami.

Pak, maafkan aku yang tak bisa membedakan kebaikan dan kebenaran yang muncul darimu hanya dikarenakan luka dalam yang pernah kau tancapkan padaku sejak kecil. Seringkali aku terima kebaikan dan kebenaranmu meski di depanmu aku seringkali menafikannya. Maafkan karena aku terluka begitu dalam. Tapi, percayalah pak, kebaikan dan kebenaran yang kau tanam aku endapkan dan aku amalkan. Visimu tentang kebaikan akan terus aku perjuangkan. Kebaikanku adalah kebaikanmu juga.

Pak, maafkan jika di tiga hingga lima tahun masa permenunganmu kita masih sering berselisih paham hingga pada sebuah kesempatan kau sempat berucap dengan gundah: “Mosok bapak mati gak onok sing nungguk’i? Mosok bapak mati gak onok sing ngerti?” (baca: “Apa bapak mati ndak ada yang menunggui? Apa bapak mati tak ada yang tau?”.

Pak, terus terang aku meradang hebat, pertanyaanmu melukai menusuk. Aku protes keras!!! Pak, tidakkah kau lihat betapa kami masih ingin sekali berbakti di tengah luka dalam masa lalu yang kau pernah beri?!!! Betapa kami masih berada di jalan yang selalu kau ajarkan. Kami terjaga dalam kebaikan dan tidak terkutuk terjerumus dalam kemaksiatan yang selalu kau khawatirkan. Aku sadar, sosokku tidaklah yang terbaik di hadapanmu.

Pak, aku menggunungkan tekad dan dendam cinta. Aku simpan dendam cinta padamu dan akan kubuktikan, aku akan mendampingimu di saat-saat terakhirmu dan tidak akan beranjak darimu. Pak, tolong pahami bahwa aku anakmu yang selalu ingin berbakti padamu.

Pak, aku sudah tunaikan dendam cintaku!

Pak, maafkan jika dendam cintaku tak sempurna kutunaikan. Aku tinggalkan kau sejenak waktu kau tak sadarkan diri di ICU, itupun atas permintaan adikku yang juga anak tercintamu yang kau rengkuh kau peluk kau asuh kau tangisi sejak bayi. Aku pahami kecintaannya padamu. Aku mengerti betapa ia sangat takut kehilanganmu.

Dalam perjalanan tangisku pecah berharap sangat kau tak pergi saat aku tak ada di sampingmu.

Gusti Allah memang Maha Besar dengan kuasa-Nya, Ia ijinkan aku mendampingimu di saat-saat terakhirmu, aku sangat bersyukur Ia ijinkan aku menyaksikan kepulanganmu. Dendam cintaku tuntas sudah. Pak, kuharap kau di sana menyadari betapa semua anak-anakmu ingin berbakti padamu dengan cara mereka mencintaimu.

Pak, aku tak meragukan kebaikan dan keberpihakanmu. Di tengah sedih dan pilu, satu bukti melegakan yang tak bisa kubantah bahwa kau memang orang baik adalah keihkhlasan dan kerelaan betapa tukang-tukang becak di pinggir jalan besar itu ikhlas berbondong-bondong takziah dari menyolatkan hingga ke pemakaman. Mereka semua tak kukenal, pak! Mereka nekad meninggalkan becaknya dan sewa angkot menuju pemakaman demi menghormatimu.

Aku tertunduk malu, entah apa yang bisa kulakukan untuk mereka? Kualitas kebaikanmu jauh lebih baik dari aku dan anak-anakmu.

Pak, pergilah dengan tenang, aku sudah tunaikan dendam cintaku dan akan terus kurawat kebaikan yang kau tanam dan itu untukmu kelak. Baktiku untukmu.

Dari anakmu yang selalu dirundung “gagu” tuk mengungkapkan bakti cintanya padamu.

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

14 thoughts on “Dendam Cinta Tuntas Sudah

  1. tanpa bercerita pun kulihat itu di raut wajahmu, di depan tanah yang belum kering itu. Foto itu nantinya akan bercerita banyak, pada anak, cucu bahkan mungkin generasi berikutnya.

    Posted by mbah sangkil | Juli 20, 2011, 3:49 pm
  2. LUar biasa..
    sampai keluar air mata saya membacanya..
    Insyaallah dengan berdoa dan memiliki anak yang soleh.Akan menjadi ladang amal (amal jariyah) bagi bapak yang sudah dipanggil oleh Allah SWT.
    Alfatehah untuk ayahnya pak ghofur. .
    alfatehah. . .

    Posted by ada-akbar.com | Juli 20, 2011, 3:53 pm
  3. saya ndak bisa comment apa-apa pak.. tulisan njenengan benar-benar membuat saya terharu..

    Posted by sibair | Juli 20, 2011, 4:15 pm
  4. tanpa bercerita pun kulihat itu di raut wajahmu, di depan tanah yang belum kering itu.

    Posted by mbah sangkil | Juli 20, 2011, 4:21 pm
  5. ikut berbela sungkawa mas

    Posted by ikhsan | Juli 20, 2011, 7:43 pm
  6. turut berduka cita pak gempur,
    Semoga cintanya dari keluarga dan sekerabat, menjadikan pengantar terbaik ke haribaanNya
    *terharu biru membaca posting ini*

    Posted by aRuL | Juli 20, 2011, 10:41 pm
  7. Nderek bela sungkawa, Kang Gempur. Sampeyan beruntung bisa berada di sisi Bapanda saat Panjenengane dipundhut. Saya ketika kedua orang tua dipanggil sama sekali tidak berada di sisi.

    Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu
    Allahumma la tahrimna ajrahu walataftinna ba’dahu waghfirlana walahu

    Posted by Kombor | Juli 21, 2011, 2:04 am
  8. Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, semoga diberi keteguhan hati untuk tetap menebarkan cinta di dunia ini…aminn.

    Ikut bela sungkawa saya mas…semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT

    Zaki

    Posted by motivasi diri | Juli 21, 2011, 6:33 am
  9. pertamax gan,,
    salam kenal..
    mampir ya…

    Posted by akhnayzz | Juli 23, 2011, 6:38 am
  10. turut berduka cita ya pak (meskipun telat..😀 Tapi kn masih 7 harinya)
    semoga amal ibadah dan smua kebaikannya diterima oleh Allah Swt. AMIN.

    Posted by Noni fyrdha | Juli 23, 2011, 11:30 am
  11. mungkin saya terlambat membaca tulisan ini…

    saya sangat terharu membaca tulisan itu, saya jadi teringat betul diskusi kita tengah malam kala itu…

    semoga Gusti Allah menerima seluruh kebaikannya dan memaafkan segala kekhilafannya, amin…

    Posted by ibnmalik | Juli 31, 2011, 12:23 am
  12. Innalillahi wainna ilaihi rojiun, turut berduka cita ya mas, kata2nya yg dituturkan sangat indah, saya jd ikut terharu. (qt pernah ketemu di launch ASeanBlogger)

    Posted by @yankmira | Agustus 1, 2011, 10:50 pm
  13. Turut berduka pak…semoga beliau diterima disisiNya

    Posted by don15 | Agustus 3, 2011, 8:25 am
  14. saya baru tau kalo trnyta bapak jg mahir mrangkai kata2 yg indah. jadi saingan dong nanti:) saya rasa alm ayahnya pak ghofur akan sangat bangga di sana karena telah berhasil menddik putranya menjadi orang yg sangat baik🙂

    Posted by Rima | September 2, 2011, 9:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: