//
you're reading...
Budaya

Kemarau yang Galau

Kemarau sudah di penghujungnya, menunggu tanda mengakhiri dirinya. Aku masih tergolek di ujung kamar sempit pengap. Masih menanti pencerahan yang berkelana entah ke mana.

Pernah menjumpainya dalam kesempatan prima, sayangnya itu belum terulang saat ini. Pencerahan itu hadir ketika pertemuan mood dan beban pikiran yang tak banyak, kala itu.

Kini, justru saat beban tak ada dan mood juga tak buruk, kenapa ide pencerahan juga tak hadir?

Adakah entitas lain yang mempengaruhinya?

Kemarau meranggas menghabiskan butir-butir bening di permukaan lembah. Gersang nyaris tak ada kehidupan.

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

3 thoughts on “Kemarau yang Galau

  1. Sangat inspiratif artikelnya.

    Posted by Anton Leonard S | Oktober 1, 2011, 10:49 pm
  2. semoga hujan bisa lekas membasahi tanah yg merasakan galau🙂

    salam

    Posted by Aulia | Oktober 2, 2011, 8:45 pm
  3. wah bagus tuh pak artikelnya, sya doakan secepatnya hujan rintik-rintik yang sejuk bisa membasahi kegersangan anda.

    Posted by qiswa | Oktober 3, 2011, 8:42 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: