//
you're reading...
Budaya, Entertainment

Kidung Sufi: Merayakan Keberagamaan dalam Keberagaman

Persembahan bagi Bangsa Merayakan Keberagamaan dalam Keberagaman, Dalam Pagelaran Musik Bersama KIDUNG SUFI – Candra Malik dan Kyai Menur, Paduan Suara Cantate Domino Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Trie Utami, Anji, John Paul Ivan, Leo Kristi. Ciputra World, Surabaya, 10 Agustus 2012.

Boleh jadi jum’at malam (10/08) di sepuluh hari terakhir ramadhan 2012 ini menjadi hiburan yang tak mungkin begitu saja terlewatkan. Bagaimana tidak, dahaga pertunjukan budaya apalagi bertajuk Merayakan Keberagamaan dalam keberagaman, dalam bentuk pagelaran musik kidung sufi yang diusung oleh Candra Malik dan Kyai Menur ini menjanjikan nuansa religius a la Indonesia.

Kabar yang dibawa oleh Mario Dewanta @mayodewanta melalui japri ini langsung kusambar dengan melakukan broadcast ke linimasa untuk mengajak teman-teman menyaksikannya. Alhasil, bersama mbah sangkil @denkenthir dan glamvian @glmvn, juga mas bennychandra @bennychandra, saya pun menghadiri pagelaran musik unik yang mungkin sudah puluhan tahun lalu tak lagi kusaksikan. Pertunjukan sejenis ini amat jarang dijumpai di Surabaya.

Pagelaran kidung sufi yang menurut sumber terpercaya merupakan pentas amal disponsori keuskupan ini menjadi daya tarik atas sinergi dalam keberagaman. Candra Malik sang pemilik album Kidung Sufi ini menguasai panggung kecil terbuka hampir sepanjang acara. Acara dibuka oleh Romo Didik dari Keuskupan Surabaya dan langsung dilanjutkan dengan penampilan perdana Candra Malik. Lagu-lagu religius bernuansa Islam dipadu dengan iringan musik Kyai Menur menjadi suguhan yang menarik. Meski bukan barang baru, akan tetapi tetap membasuh dahaga “pentas budaya”.



Dari sekian lagu yang ditampilkan, lagu Fatwa Rindu menjadi kehebohan tersendiri dalam pandangan saya. Selain karena nada dan liriknya yang indah, juga karena aura keberagaman yang disajikan paduan suara UK Widya Mandala diiringi tarian darwis khas sufi serta kombinasi vokal Candra Malik berkolaborasi dengan Trie Utami dan Anji yang menurut saya menghidupkan ruh lagu ini. Ditopang dengan melodi gitar dari John Paul Ivan menjadikan lagu ini begitu ‘megah’. Karakter suara Anji dalam Fatwa Rindu ini juga sangat menonjol dalam versi live di Surabaya, meski di album resminya hanya Trie Utami yang mendampingi suara Candra Malik.

Selain itu, Romo Didik menyumbangkan puisi cinta kasihnya yang diiringi instrumen menyajikan kesejukan dan keagungan. Yang lantas disambut dengan lagu Ave Maria yang dibawakan oleh Trie Utami berduet dengan Romo Didik. “Sepanjang karir saya bermusik, baru malam ini saya berduet dengan seorang Romo, malam bersejarah yang tidak akan terlupakan bagi saya”, tutur Tri Utamie sebelum menyanyikan lagu Ave Maria.

Penampilan lain yang sangat berkesan tak lain dan tak bukan adalah legenda musik Surabaya, Leo Kristi, penampilannya memukau sejak dari saya mengenalnya saat kuliah dulu. Menyanyikan lagu dengan suara vokal yang tak lazim dan dengan gitarnya yang menghentak-hentak menyuguhkan tontonan lama yang mengobati rindu pada kehidupan kesenian. Di akhir pertunjukan akustiknya, seperti yang biasa dia lakukan, mengakhiri performa dengan dramatis lari meninggalkan panggung dan menjatuhkan kursi yang tak ia duduki. “Beruntung hanya kursi yang beliau jatuhkan, biasanya tak hanya kursi, mik, gitar, dan perlengkapan musik di sekitarnya biasanya ikut ambruk”, kata Candra Malik.

Di akhir pertunjukan yang berlangsung hampir kurang lebih satu setengah jam ini, seluruh artis pendukung turun gelanggang menyanyikan lagu Syahadat Cinta (Lakum Dinukum Waliyadin) sebagai pemuncak acara. Audiens yang hadir tampak begitu sangat puas dan antusias memberikan applaus pada seluruh performer yang tampil.



Di sela-sela bubarnya acara, penonton tak ingin kehilangan momen dengan mengajak beberapa personel yang tampil untuk berfoto bersama. Keramahan dan kehangatan para seniman pendukung menjadi daya tarik bagi siapapun yang hadir, tak terkecuali Anji yang dengan kerendahan hatinya berbagi gambar dan pose dengan dua petugas cleaning service. Pertunjukan budaya yang mengesankan di bulan penuh keberkahan.

Terima kasih atas suguhan budayanya.πŸ™‚

Galeri foto jepretan kamera BB yang sowak bisa dilihat di alamat ini: http://imgur.com/a/1Qi4X#0

About Gempur

Saya manusia biasa tapi punya mimpi luar biasa

Diskusi

8 thoughts on “Kidung Sufi: Merayakan Keberagamaan dalam Keberagaman

  1. gambare kok gak metu tho pakdhe, opo speedyku sing busukπŸ˜€

    Posted by Budiono | Agustus 13, 2012, 3:35 pm
  2. hahahahaha… wes tak benerno iko loh.πŸ˜€

    Posted by aghofur | Agustus 13, 2012, 3:45 pm
  3. Pertunjukan seni yang keren dan penuh makna. Sayangnya aku datang telat…

    Posted by Ben | Agustus 13, 2012, 4:51 pm
  4. @man Ben: Peralatan perang juga gak kebawaπŸ™‚

    Posted by aghofur | Agustus 13, 2012, 6:40 pm
  5. wuiihhh kui sampeyan melu2 njoget mubeng2 rak om…πŸ˜›

    Posted by brencia | Agustus 15, 2012, 1:43 am
  6. @Brencia: aku ra melu mubeng2 kok. Wedi tibo.πŸ˜€

    Posted by Gempur | September 12, 2012, 5:25 pm
  7. Jarang ada pertunjukan kayak gitu di Indonesia,
    like itπŸ™‚

    Posted by Em Farobi | September 16, 2012, 8:03 am
  8. @Em Farobi: pertunjukan model begini memang jarang, mas. Makanya saya upayakan hadir.πŸ™‚

    Posted by aghofur | September 17, 2012, 10:16 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: